Jalan yang Tak Pernah Selesai
Jalan yang Tak Pernah Selesai
Syahbati
Sering gak sih kamu memperhatikan jalan sepanjang perjalananmu? Seperti aku. Entah kamu mau kerja, belanja, atau sekadar naik motor hilir mudik cari makanan—atau apalah.
Aku tuh sering heran. Kenapa ya, setiap masuk pertengahan tahun ke atas, jalan yang tadinya lumayan mulus tiba-tiba udah mulai digali di pinggirannya? Alasannya macam-macam. Katanya untuk penerangan lampu jalan. Lalu besoknya ada proyek perbaikan trotoar. Ntar ganti lagi gas, air, PAM, telepon, entah apalagi.
Yang jelas, kegiatan “gali-gali jalan” ini bikin perjalanan jadi terganggu. Macet sana, seret sini. Dan yang lebih ajaib, tahun depan polanya terulang lagi. Kayak drama sinetron 300 episode yang gak ada tamatnya.
Kadang aku mikir, apa ini memang strategi buka lapangan kerja? Atau semacam tradisi tahunan biar kita punya bahan obrolan di warung kopi? Atau... jangan-jangan jalan itu memang gak boleh terlalu lama mulus, biar orang tetap rendah hati dan gak jumawa?
Lucunya, aku suka pengin berhenti di tengah proyek, lalu nanya ke pekerja yang lagi jongkok sambil nyeruput kopi: “Bang, ini galiannya betahnya berapa lama ya? Seumur jagung, seumur duren, atau seumur jabatan?” Tapi ya jelas gak mungkin aku nanya gitu. Bisa-bisa dikeplak pakai helm proyek.
Fenomena ini bikin aku mikir, jalan kita tuh kayak kue lapis legit. Setiap tahun ditambah lapisan baru: aspal, tiang, pipa, kabel, aspal lagi. Gak ada habisnya. Dan anehnya, tiap yang ngerjain kayak rebutan panggung dangdut. Selesai satu, nongol lagi yang lain.
Tapi di balik semua kekesalan, aku suka nemuin renungan. Mungkin ini cara pemerintah ngajarin kita bersabar. Sabar menghadapi macet. Sabar menahan debu. Sabar kalau motor nyemplung ke jalan yang bolong setengah.
Dan benar juga, saat kita terjebak macet gara-gara proyek jalan, ada doa-doa kecil yang meluncur tanpa disadari: “Ya Allah, semoga sabar.” “Ya Allah, semoga bensin gak habis.” “Ya Allah, semoga ban gak meletus di lubang ini.” Lihat? Jalan bukan cuma sarana transportasi, tapi juga ladang pahala.
Jadi kalau tahun depan jalan yang sama digali lagi? Aku cuma bisa senyum getir sambil bilang: “Selamat datang wahai proyek tahunan. Semoga engkau tetap setia menemani langkah-langkah kami. Kalau hidup adalah perjalanan, mungkin jalannya memang sengaja dibuat bolong-bolong—biar kita gak lupa untuk berhenti, menunduk, lalu belajar bersyukur.”
BaitiJannati, Selasa 16 September 2025
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan