Nurbaiti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Sang Pengantin Purnabakti

Sang Pengantin Purnabakti

Oleh Nurbaiti

Hari ini, sekolah kedatangan “pengantin”. Tapi jangan salah sangka dulu. Bukan pengantin putih dengan gaun berkilau, melainkan pengantin purnabakti bernama Bu Imas. Budaya seperti ini memang tak pernah tercatat di buku sejarah, bahkan NASA pun tak pernah menelitinya. Hanya di SMA “NASA” lah, acara pelepasan guru disulap jadi hajatan penuh rasa.

Jam istirahat pertama, seluruh siswa dikumpulkan di lapangan dalam. Cuaca panas membara, padahal baru pukul sepuluh. Beberapa anak sempat-sempatnya bawa payung, mirip konser K-pop di tengah terik matahari. Dari sekian banyak wajah, Lutfy kelas XII maju ke podium, mewakili kawan-kawannya. Dengan suara yang bergetar tapi gaya tetap cool, ia menyampaikan rasa terima kasih dan doa. “Semoga Bu Imas selalu sehat, dan doakan kami agar diterima di kampus impian.” Anak-anak yang mendengarnya menunduk, ada yang mengusap peluh, ada juga yang mengusap air mata. Bedanya tipis: keringat atau haru.

Kepala sekolah memberikan sambutan singkat, lalu tibalah giliran sang pengantin. Bu Imas, dengan senyum yang menyimpan rindu, mengucapkan dua hal yang paling penting: motivasi dan permohonan maaf. Kata-katanya sederhana, tapi justru membuat suasana tambah meleleh.

Belum sempat suasana kembali tenang, sepasang siswa maju ke podium. Mereka berdiri di kanan-kiri Bu Imas, lalu menyanyikan lagu “Terima Kasih Guruku”. Sontak seluruh lapangan bergema, suara anak-anak menembus awan panas. Entah karena akustik alami atau karena mata yang berkaca-kaca, lagu itu terdengar indah sekali. Tak puas dengan satu lagu, mereka menambah satu lagi. Kalau tidak buru-buru dihentikan, bisa jadi mereka bakal bikin konser dadakan.

Acara singkat itu ditutup dengan doa dari Ustadz Khairul. Doa khusus dipanjatkan untuk kesehatan dan kebahagiaan Bu Imas. “Aamiin” terdengar panjang, seolah tak ingin cepat selesai. Setelah itu, anak-anak kembali ke kelas. Pelajaran tetap berlanjut, meski hati sebagian masih tertinggal di lapangan.

Siang menjelang, keluarga besar SMA NASA bergerak bersama-sama mengantar Bu Imas pulang. Rombongan bak iring-iringan manten. Bu Imas duduk manis di mobil Pak D, wajahnya sumringah seperti pengantin sungguhan. Tak sampai tiga puluh menit, rombongan tiba di kediamannya di Bintara. Benar-benar seperti hajatan: tenda sudah terpasang, makanan prasmanan, kue, buah, sirup, semua tersedia. Suami dan anaknya menyambut hangat, membuat suasana makin meriah.

Karena hari Jumat, acara dimulai dengan makan dulu, lalu bapak-bapak berangkat shalat Jumat, disusul ibu-ibu yang shalat di lantai dua rumah Bu Imas.

Setelah itu, acara inti kembali dilanjutkan. Pak Danar, dengan gaya MC andalannya, mempersilakan kepala sekolah berbicara. Disusul bu Imas sebagai sahibul bait. Bu Nur mewakili para guru, dengan ucapan yang jenaka sekaligus penuh persahabatan.

Tak berhenti di situ, hadiah demi hadiah pun diberikan. Bu Sri Nuryanti memakaikan gelang emas di tangan Bu Imas sebagai tanda cinta dari keluarga besar NASA. Bu Yayuk menyerahkan buket bunga biru yang disisipi dua puluh lembaran uang berwajah Ir. H. Djuanda Kartawidjaja, dari KESRA. Buket indah tanda kebersamaan dan kepedulian dari 'kita untuk kita' dan penuh simbol doa. Pak Shobur menambahkan kado dari kepala sekolah, sementara Bu Sri Nuryanti juga memberikan sebuah buku, tanda ilmu tak akan berhenti ditulis.

Doa terakhir dipimpin Pak Diding, lalu seluruh rombongan berfoto bersama di teras rumah. Foto-foto itu bukan sekadar dokumentasi, tapi pengikat kenangan. Setelahnya, semua kembali ke mobil masing-masing yang diparkir di halaman Masjid Al-Hidayah.

Sore menjelang, rombongan kembali tiba di sekolah. Masih ada satu jam tersisa sebelum jam pulang. Gerimis pun ikut turun, seolah ikut melepas Bu Imas dengan kelembutan. Hari itu berakhir, tapi jejak pengabdian Bu Imas tetap tinggal di hati semua.

Dan begitulah, pesta purnabakti yang sederhana, diiringi canda tawa, penuh cinta. Sungguh, di Sekolah NASA, melepas guru bukan sekadar acara, melainkan doa yang terpanjat dalam-dalam: semoga Bu Imas selalu sehat, bahagia, dan menjadi “pengantin abadi” dalam keluarga besar pendidikan dan tentunya dalam keluarga besar tercinta.

Malaka Tiga, Baiti Jannati, Jum'at 12 September 2025.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post