Ceramah Maulid yang Bikin Nangis
Ceramah Maulid yang Bikin Nangis
Entah kenapa malam itu langkahku berhenti di Masjid Baitul Mukminin, Malaka 2. Katanya, cuma mau shalat Isya berjamaah, tapi... dalam hati aku tahu, pasti ada maunya. Dan bener aja, setelah Isya, ada ceramah Maulid Nabi Muhammad SAW. Aha! Berarti bukan kebetulan, tapi “panggilan langit” yang dikirim lewat toa masjid. 😄
Begitu masuk, suasana masjid terasa hangat. Bukan cuma karena sandal berserakan di depan tangga, tapi karena suara qari yang melantunkan ayat-ayat suci dengan merdu banget. Katanya, beliau qari nasional. Dan aku percaya. Suaranya itu loh... nembus sampai hati. Bikin bulu kuduk berdiri, tapi bukan karena takut—karena kagum.
Tak lama, suara hadroh mengalun. Barisan anak-anak muda, kebanyakan masih usia sekolah, duduk rapi, memukul rebana dengan ritme yang rapi banget. Syair Arab-nya mengalun indah, walau aku cuma bisa nangkep satu kata yang familiar: “Shollu ‘alan Nabi...” Sisanya? Aku pura-pura paham, sambil ikut manggut kayak penerjemah hati. 😆
Tiba giliran ustadz naik mimbar. Wah, yang satu ini bukan tipe penceramah “tegas tapi ngantuk.” Beliau lucu! Punya kemampuan pantun dadakan. Baru lima menit bicara, jamaah udah pada senyum-senyum. Baru sepuluh menit, ibu-ibu udah mulai tertawa sambil nyenggol bahu temannya. Baru lima belas menit... ustadz nyeletuk tentang perselingkuhan rumah tangga. Nah lo! Langsung semua jadi hening. Bahkan suara kipas pun serasa berhenti berputar. 😂
Dengan gaya santainya, ustadz bilang,
“Bapak-bapak, ibu-ibu, tahu gak, kenapa sekarang banyak rumah tangga retak? Karena kadang pintunya gak dikunci… hati-nya maksudnya!”
Masya Allah, satu masjid ketawa, tapi juga mikir. Lalu beliau lanjut, katanya ada empat penyebab utama perselingkuhan:
Ekonomi — karena dompet yang kosong bisa bikin mata melirik yang tebal. Kurang komunikasi — karena kalau di rumah jarang ngobrol, nanti malah cari yang suka dengerin. Kurang jujur antar pasangan — bohong kecil bisa jadi jurang besar. Kurang zikir pada Ilahi — karena hati yang gak ingat Allah, mudah disusupi bisikan setan (dan notifikasi mantan 😅).Aduh, ustadz ini benar-benar tahu cara bikin jamaah mikir sambil ngakak. Aku lihat ibu-ibu paling semangat nyimak, apalagi pas poin nomor empat disebut. Ada yang bisik-bisik ke sebelahnya,
“Nah, tuh, bener kan, bukan cuma ekonomi, zikir juga penting!”
Ceramah ditutup dengan doa yang syahdu. Aku menatap langit-langit masjid, sambil berpikir: Mungkin beginilah indahnya Maulid. Penuh tawa, penuh makna, tapi tetap menyentuh hati.
Karena mencintai Rasulullah itu bukan cuma soal hadir di acara Maulid, tapi bagaimana kita pulang dengan hati yang lebih hidup. Dan malam ini, entah kenapa, aku pulang dengan langkah ringan… dan suara hadroh masih bergema di kepala. “Shollu ‘alan Nabi Muhammad…”
“Dan aku tersenyum di jalan pulang, merasa malam ini bukan sekadar Maulid — tapi juga maulidnya hatiku yang terlahir kembali.”
❤️
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan