Bisakah Nulis Cerpen Dadakan?
Ketika orang bertanya, bisakah nulis dadakan? Saat itu juga aku bisa jawab. Bisa! Apalagi tanpa syarat. Artinya kita akan nulis bebas.
Tapi ketika pertanyaan lebih khusus, bisakah menulis cerpen dadakan? Nah ini.
Seketika aku berpikir, lalu pertanyaan keren itu kuulangi lagi, terus aku kembali mikir, apa bisa?
Lalu aku jawab sendiri juga, “Nyoba aja dulu, siapa tahu bisa.” Tiba-tiba aku merasa jadi orang bijak dadakan. Padahal ya, sambil nulis ini aku masih bingung, mau mulai dari mana, tokohnya siapa, konfliknya apa, dan yang paling penting: ending-nya bakal kemana. Tapi bukankah hidup juga gitu? Kita jalan aja dulu, nanti ending-nya Allah yang atur.
Aku jadi inget pepatah lama yang sering dibilang guru Bahasa Indonesia-ku dulu: “Alah bisa karena biasa, dan biasa bisa karena dibiasakan.” Awalnya kupikir itu cuma kalimat pemanis buat motivasi murid yang ngantuk di kelas. Tapi makin ke sini, ternyata bener juga. Hal-hal besar selalu berawal dari kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus — meski awalnya setengah hati, separuh sadar, dan sering lupa tanda baca. 😅
Jadi malam ini, aku duduk dengan niat tulus: nulis cerpen dadakan. Entah nanti hasilnya jadi kisah cinta, cerita lucu, atau malah catatan absurd tentang kehidupan pengawas ujian yang nulis sambil jagain siswa dan sesekali nyeruput kopi. Yang penting: aku nulis. Karena kalau nggak dimulai, kapan bisa biasa?
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan