Kasus Hilang si Kuning
Kasus Hilangnya Si Kuning
Entah sudah berapa hari. Aku sendiri lupa. Biasanya, rumah bagian atas paling berisik—sumber suara tawa, siulan, dan keributan kecil setiap pagi. Tapi akhir-akhir ini... sepi. Sepi yang mencurigakan.
Dua sejoli parkit peliharaan kami biasanya paling heboh. Si hijau cerewet, si kuning centil. Tiap kali aku naik ke lantai atas, mereka berlomba menyapa. Si hijau dengan siulan khasnya, si kuning dengan gaya manja yang bikin iri burung-burung di luar sana.
Tapi kemarin sore, suasana aneh. Tak ada siulan. Tak ada “ngak-ngik-nguk” manja. Hening seperti kelas kosong saat jam pelajaran terakhir. Aku naik pun sudah malam, hanya sempat menengok sebentar, memastikan mereka masih di tempatnya. Ternyata...
Pagi ini, suamiku yang lebih dulu ke atas. Seperti biasa, ia bawa makanan untuk mereka. Tapi tak lama kemudian, terdengar suaranya dari atas, agak panik tapi tetap logat bapak-bapak santai: “Yang...! Si kuning nggak ada!”
Aku langsung refleks nyahut, “Masa, sih? Pintu sangkar kan ditutup!” “Ya itu anehnya,” katanya lagi, “pintunya rapat, tapi burungnya lenyap.”
Kami berdua saling pandang. Aku mulai berpikir macam-macam: jangan-jangan dia kabur lewat celah rahasia, atau teleportasi lewat kandang sebelah. Mungkin juga ikut lomba menyanyi di taman sebelah.
Suamiku tetap serius menatap kandang kosong itu, seolah sedang memeriksa TKP. Sementara aku sudah membayangkan si kuning terbang bahagia di luar sana sambil teriak, “Freedommm...!!!”
Aku cek lagi sekitar kandang. Tak ada bulu tercecer. Tak ada tanda-tanda perkelahian. Seperti burung itu memang sengaja kabur dengan elegan. Barangkali, selama ini dia sudah punya rencana besar: “Suatu hari... aku akan meninggalkan sangkar ini dan mencari dunia baru. Dunia di mana biji-bijian gratis dan air jernih mengalir tanpa batas.”
Dan kini, mungkin dia sudah menepati janjinya.
Sampai berita ini kutulis, si kuning belum kembali. Si hijau tampak murung—atau mungkin lega karena rumahnya jadi lebih sepi dan damai, siapa tahu. Kami berdua, aku dan suami, masih menunggu. Kadang sambil menatap jendela, berharap ada suara, sekadar “ciiit~” kecil tanda dia pulang.
Kalau nanti dia datang lagi, mau kupasang papan kecil di sangkarnya:
“Harap jangan kabur tanpa izin lagi ...ya
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan