Nurbaiti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Jejak

Jejak Panjang di Jalan Pengabdian

Syahbati

Di sekolah, waktu tak sekadar berlari, ia menenun kisah. Hari berganti tahun, wajah-wajah datang dan pergi, namun ada dua sosok yang hari Kamis kemarin (16 Oktober) kita lepaskan dengan senyum dan rasa haru: Pak Danar Parwadi dan Bu Imas Ratnawati, dua guru bahasa yang menutup masa baktinya dengan cerita panjang tentang kesetiaan dan ketulusan.

Pak Danar, Tiga Puluh Tiga Tahun Tujuh Bulan di Jalan yang Sama

Tahun 1992, langkahnya pertama kali menjejak di sekolah ini. Bertahun-tahun kemudian, langkah itu tak pernah benar-benar pergi. Dari awal pengangkatan hingga masa purna tugas, Pak Danar tetap di tempat yang sama. Sekolah yang menjadi rumah keduanya.

Pernah dua kali akan dirotasi, tapi batal karena menjadi wakil kepala sekolah. Seolah takdir menahannya untuk tetap di sekolah ini. Atau mungkin sekolah tempat beliau mengabdi ini terlalu sayang untuk melepaskannya.

Pak guru yang berwibawa ini menyaksikan generasi berganti setiap tahunnya, sampai bertahun-tahun bahkan sempat mengajar generasi cucunya anak dari muridnya. Luar biasa.

“Ketika sekolah RSBI, segalanya berubah,” kenangnya pelan. Namun satu hal yang tak pernah berubah adalah semangatnya: semangat mencerdaskan anak bangsa dengan kesabaran dan cinta.

Kini, setelah 33 tahun lebih, Pak Danar menutup masa tugasnya dengan senyum kemenangan, senyum senang. Meninggalkan jejak yang tak sekadar di papan tulis, tapi di hati setiap siswa yang pernah beliau ajar.

Bu Imas, Dari Rotasi Menjadi Rumah Hati

Berbeda dengan Pak Danar yang sejak awal di sini, Bu Imas datang Januari 2016. Sebuah rotasi yang ternyata membawa berkah. Sebelumnya, beliau pernah bertugas di SMPN 122, SMA Perguruan Rakyat, dan SMA 103 Jakarta. Sekolah ini adalah rumah keempatnya, dan rupanya menjadi tempat bu Imas menambatkan hati.

Kesan pertamanya begitu sederhana "Sekolahnya bersih, siswanya sopan, pintar, dan berprestasi.” Sejak hari itu, ia menanamkan cinta pada bahasa, mendorong murid-muridnya mencintai pelajaran yang sering dianggap sulit.

Bu Imas, bukan hanya mengajar, tapi menumbuhkan rasa suka belajar, mengubah anak-anak yang cuek menjadi bersemangat. Bagi Bu Imas, menjadi guru adalah tentang menyentuh hati, mengubah cara pandang, dan menyalakan cahaya kecil dalam diri siswa.

Pesannya sederhana namun mendalam: “Untuk siswa, teruslah berusaha meraih prestasi terbaik. Untuk guru, sayangi dan layani siswa dengan sepenuh jiwa dan raga.”Dua sosok ini kini menuntaskan perjalanan panjangnya, meninggalkan ruang-ruang kelas yang pernah mereka isi dengan suara dan makna.

Mereka berdua berbeda jalan, tapi berjumpa di satu titik yang sama: cinta pada profesi dan kesetiaan pada pengabdian.

Ketika mereka berpamitan, kita sadar sekolah tak hanya tempat belajar, tapi juga tempat menua dengan indah. Dan guru, pada akhirnya, bukan hanya pengajar, melainkan penjaga cahaya di tengah perjalanan waktu.

Terima kasih, Pak Danar dan Bu Imas. Langkah yang tak pernah benar-benar berhenti.Tapi terus hidup dalam jejak ilmu dan doa murid-murid yang mencintainya 🌸

Baiti Jannati, Sabtu, 18 Oktober 2025

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post