Rezeki Kelelawar dan Pagi yang Berbicara
Rezeki Kelelawar dan Pagi yang Berbicara
Syahbati
Teras rumahku pagi ini terasa lebih hidup daripada biasanya. Burung parkit di kandang seakan sedang meratapi kepergian pasangannya. Suaranya lirih, seperti nyanyian rindu yang tak punya arah pulang. Di sisi lain, burung beo menyapaku dengan lantang, “Assalamualaikum!”
Aku tersenyum. Setidaknya masih ada yang mengingatku di pagi ini.
“Lupa, metik sawo kemarin. Udah dimakan kelelawar,” kata suamiku tiba-tiba sambil menarik kursi di sebelahku.
Aku menoleh sekilas, menatap pohon sawo di sudut halaman. Benar. Dua buah yang tersisa kini hanya tinggal sisa gigitan.
“Rezeki kelelawar,” jawabku ringan. Kami sama-sama tertawa kecil.
Tapi suamiku belum berhenti. “Ini kenapa ya, kok jambu ini busuk padahal udah dibungkus?”
Aku tak menjawab. Dalam hati, aku tahu aku sedikit telat membungkusnya. Tapi kupikir, bukan itu masalahnya. Aku hanya berdoa pelan, semoga bukan karena tanah pot yang terlalu sering kutanami sisa kulit buah dan sayur. Aku sayang pada pohon itu. Kadang aku ajak bicara, dan entah kenapa aku yakin, dia juga mengerti.
Suamiku kemudian bersiap. Katanya ada rapat dengan ustadz. Aku salut padanya. Selalu datang lebih cepat dari waktu yang dijanjikan.
Sementara aku, kadang masih ganti baju ketika dia sudah siap berangkat. Hehe, kami memang berbeda. Tapi di situlah hangatnya: ia yang disiplin, aku yang pelupa tapi penuh rasa.
Tiba-tiba suara klakson terdengar di depan pagar.
“Telat 13 menit,” gumamku sambil tertawa kecil.
Artinya, suamiku sudah menunggu total 28 menit. Dan anehnya, aku merasa beruntung punya seseorang yang tahu bagaimana cara menunggu — dengan sabar, tanpa marah, tanpa banyak kata.
Pagi itu sederhana, tapi rasanya penuh cinta.
Dan dari suara burung, buah sawo, hingga klakson motor aku tahu, bahkan hal kecil pun bisa menjadi pengingat betapa hidup ini sebenarnya sedang berbicara padaku.
Senin, 21 Oktober 2025
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan