Literasi Kelas
Tulisan di Buku Literasi
syahbati
Rabu kemarin, anak-anak menulis sesuai pengalaman mereka. Untuk kelas X, temanya “Ujian Pertamaku di SMA” atau “Aku dan AFB Pertama.” Mereka menulis refleksi dengan gaya khas anak remaja — jujur, polos, tapi hangat.
“Pagi hari pertama AFB aku sangat deg-degan. Jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya. Kulihat teman-temanku, mungkin rasanya tak jauh beda denganku. Senyum hambar ala deg-degan,” tulis Ami.
“Semalaman aku nggak bisa fokus. Besok AFB pertamaku. Apa aku bisa melewati ini sampai akhir? Jujur, aku seperti belum siap. Padahal aku sudah belajar dua minggu ini. Tapi tetap aja merasa kurang,” curhat Faty.
“Aku bergabung dengan Google Meet bersama teman-teman sekelas. Kami saling bantu, saling tanya. Kelasku kompak, aku bersyukur bisa sekelas dengan mereka,” tulis Ridha.
“Tiba-tiba laptopku berulah. Aku panik! Kenapa ini terjadi di hari pertama dan di jam pertama? Aku melarikan laptopku ke ruang panitia. ‘Kamu salah klik, ini untuk kelas XI,’ kata panitia. Oh alaah... kutepuk keningku. Gara-gara nggak fokus, aku malah buka ujian tahun depan! Ya Allah, aku sudah kehilangan sedikit waktuku,” tulis Soya, yang akhirnya menutup tulisannya dengan kalimat lucu, “Tapi aku lulus juga dari panik level dewa.”
Lalu ada Zora yang menulis dengan detail suasana pagi di sekolah: “Selasar sekolah penuh, ramai. Tak pernah kulihat sebelumnya. Apakah begini tradisi di sekolahku? Semua membicarakan AFB, semua sibuk dengan hafalan. Maklum, sosiologi dan geografi akan bertemu kami hari ini. Aku pun ikut komat-kamit, pura-pura hafal.”
Tak terasa sudah satu jam aku membaca tulisan-tulisan itu. Ada rasa bahagia yang sulit dijelaskan. Sesekali aku menulis komentar kecil di pinggir halaman — bukan sekadar menilai, tapi menyapa hati mereka.
Aku teringat masa SMA dulu. Betapa senangnya aku ketika ada tulisan kecil dari guruku di buku tugas. Hanya satu kata pun “Bagus!” atau “Coba tulis lebih jelas lagi” sudah cukup membuatku tersenyum seminggu penuh. Mungkin karena di balik tulisan itu, aku merasa: “Guruku membaca tulisanku.”
Kini, aku ingin anak-anakku di kelas merasakan hal yang sama. Bahwa tulisannya dibaca, diperhatikan, dan dihargai. Aku ingin mereka mencintai menulis bukan karena tugas, tapi karena ingin berbagi cerita, berbagi rasa.
Ketika membaca tulisan, “Aku dan temanku main ke mall merayakan AFB sudah berakhir,” aku menulis komentar kecil di pinggir halaman: “Kok nggak ngajak-ngajak, hehe.”
Ada juga yang tulisannya kutandai dengan bintang kecil dan pujian, karena aku ingin mereka tahu: tulisanmu berharga.
Aku memang bukan guru Bahasa. Aku guru Fisika — yang seharusnya bicara tentang energi, gaya, dan hukum Newton. Tapi siapa bilang guru Fisika nggak bisa mengajak anak-anak menulis?
Bagi mereka, menulis mungkin seperti memecahkan soal cerita — harus paham maknanya dulu, baru bisa menemukan jawabannya. Dan bagi aku sendiri, membaca tulisan mereka adalah cara paling indah untuk belajar tentang semangat, perjuangan, dan kejujuran anak-anak SMA.
Aku ingin terus menulis bersama mereka, membaca kisah kecil yang tumbuh dari pena-pena muda itu. Karena setiap kalimat mereka, adalah percikan cahaya yang mengingatkanku — bahwa mengajar bukan sekadar memberi materi, tapi juga membesarkan hati.
Dan di akhir setiap refleksi, aku teringat firman Allah:
“Barang siapa menanam kebaikan walau sebesar biji zarrah, niscaya ia akan melihat (balasannya).” (QS. Az-Zalzalah: 7)
Mungkin, membaca tulisan anak-anak hari ini adalah salah satu bentuk menanam kebaikan kecil itu. Bukan hanya bagi mereka yang belajar menulis, tetapi juga bagi aku — yang belajar untuk terus mencintai profesi ini dengan hati yang baru setiap hari.
Baiti Jannati, Kamis, 15 Oktober 2025
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan