Nurbaiti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Saat Hati Menemukan Dimensi

Saat Hati Menemukan Dimensi

Syahbati

Hari ini, aku kalah oleh waktu. Bukan karena sibuk, tapi karena aku memilih diam. Pakaian yang sejak pagi sudah kurendam masih terendam, airnya bahkan sudah dingin dan berdebu. Niat menyetrika sambil nonton drama Korea berubah jadi tidur panjang, dan ketika bangun, yang tersisa hanya rasa malas yang lebih tebal dari selimut.

Di sela rebahan, aku melirik tanganku sendiri. Kulitnya mulai kusam. Bukan hanya karena matahari, tapi karena aku jarang menyentuh air wudu. Tiba-tiba aku sadar, aku kurang minum — bukan cuma air, tapi juga ayat-ayat Allah yang biasanya menenangkan setiap haus jiwaku.

Aku, yang biasa bicara tentang dimensi ruang dan waktu, hari ini tenggelam dalam dimensi lain — dimensi diam. Dimensi di mana tubuhku terbaring, pikiranku melayang, dan imanku menurun. Tapi mungkin... inilah ruang yang Allah ciptakan agar aku sempat melihat diriku sendiri dari luar.

Manusia memang punya dimensi yang tak terbaca oleh rumus. Bukan , LT-¹ melainkan LT² (Lelah Tidur dan Tobat) Rumus sederhana yang hanya bisa dihitung dengan air mata dan istighfar.

Aku pernah berkata kepada murid-muridku bahwa dimensi bisa diturunkan dari satuan. Hari ini aku belajar sebaliknya — satuan hati bisa diturunkan dari kesadaran. Bahwa setiap detik yang terlewat tanpa dzikir, membuat waktu terasa lebih berat daripada gravitasi bumi. Dan setiap kali aku menunda ibadah, sebenarnya aku sedang menambah percepatan jarakku dari Allah.

Namun di ujung hari yang malas ini, ada sesuatu yang lembut menyentuh relung hatiku. Mungkin itu rasa rindu. Rindu untuk kembali mengaji, untuk menegakkan shalat, untuk menjadi versi diriku yang dulu lebih tenang.

Aku menatap langit senja dari jendela kamar. Cahaya jingga menyelinap masuk, seperti ingin berkata, “Allah tidak pernah jauh, hanya kau yang sedang berputar menjauh.”

Aku tersenyum kecil. Mungkin beginilah caranya Allah menegurku — bukan dengan marah, tapi dengan memberi ruang bagi lelahku untuk berubah menjadi istighfar.

Karena ternyata, fisika tak hanya berbicara tentang ruang dan waktu, tapi juga tentang arah dan keseimbangan. Dan hati yang seimbang hanyalah hati yang terus mencari Tuhannya.

Hari ini aku malas, iya. Tapi di dalam malas itu, aku belajar arti diam yang menyadarkan. Bahwa setiap jiwa punya dimensi sendiri untuk kembali — dan aku, malam ini, akhirnya menemukan dimensi hatiku.

“Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan juga pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Adz-Dzariyat: 20–21)

Baiti Jannati, Ahad, 12 Oktober 2025

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post