Nurbaiti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Murid Pingsan di Tengah Pemeriksaan

Murid Pingsan di Tengah Pemeriksaan

Syahbati

“Anak-anak tadi di AUVI lucu-lucu deh, Bu. Banyak yang takut disuntik.” Kata Bu Yuni sambil tertawa kecil. Aku langsung kepo. Kelasku dijadwalkan tiga puluh menit lagi. Masih sempat Dhuha dulu, pikirku.

Begitu turun, suasana ruang AUVI sudah ramai. Deretan kursi penuh oleh siswa yang menunggu giliran. Di sebelah kanan, tiga petugas puskesmas duduk berderet, lengkap dengan sarung tangan dan alat-alat pengecek gula darah serta HB. Di sebelah kiri, beberapa petugas lain siap dengan alat ukur tinggi badan, tensimeter, dan papan huruf untuk tes mata.

Aku duduk memperhatikan dari jauh. Beberapa anak tampak tegang, ada yang pura-pura berani, ada yang benar-benar pucat. Aku tersenyum melihat mereka — yang katanya calon penerus bangsa tapi kalah sama jarum kecil.

“Gak sakit kok,” kataku pada seorang siswa yang sedang menunggu giliran. “Beneran, Bu? Gak sakit?” Aku tertawa. “Lebih sakit waktu disunat, kan?” godaku. Petugas ikut tersenyum. “Tarik napas ya, tenang…” “Auuhhhh!” teriaknya spontan saat jarum menembus jari manis kirinya. Teman-temannya langsung heboh. Aku sampai menahan tawa.

Rana, gadis kecil berhijab rapi, tampak ragu di kursinya. “Teman-teman dulu aja, aku nanti,” katanya gugup. Aku mendekat, menepuk bahunya. “Gak apa-apa. Pernah kena jarum pentul waktu pakai jilbab? Nah, rasanya kayak gitu aja.” Dia mengangguk pelan. Petugas mulai bekerja. Klik! Jarum menyentuh kulitnya secepat kedipan mata. “Sudah,” kata petugas itu lembut. Rana tersenyum lega. “Oh, gini doang ya.” “Kan ibu bilang…” jawabku sambil mengedip.

Tapi belum sempat aku lanjut menghibur yang lain, seorang anak datang berlari. “Bu, Rina pingsan!”

Refleks aku berdiri dan berlari ke arah kerumunan. Seorang siswa tergeletak di kursi, wajahnya pucat pasi. Petugas segera menopangnya dan menaruh permen di mulutnya. “Rina… buka matanya, ya. Jangan merem,” pintaku pelan tapi tegas. Matanya berusaha terbuka, berat, nyaris tanpa tenaga. “Kamu dengar suara ibu?” tanyaku. “Kurang jelas, Bu…” jawabnya lirih. Aku panik tapi mencoba tenang. “Aura, tolong beli teh manis hangat, cepat!”

Beberapa menit kemudian segelas teh datang. Rina meminumnya perlahan. Pelan-pelan wajahnya mulai memerah kembali. Ternyata, dari pagi ia belum makan sama sekali. Dan tadi sempat berdiri lama di lapangan untuk upacara.

“Kalau kamu masih lemas, ibu hubungi mama, ya,” kataku lembut. Rina mengangguk. “Boleh saya istirahat di UKS dulu, Bu?” “Tentu, silakan,” jawabku lega.

Suasana perlahan tenang kembali. Anak-anak lain melanjutkan pemeriksaan. Ada yang cek mata sambil bercanda, ada yang nimbang sambil protes berat badannya naik. Semua berjalan seperti biasa… sampai tiba-tiba — bruuuk!

Aku spontan menoleh. Dinding triplek di pojok ruangan tampak penyok. Astaghfirullah… Enes berdiri kaku di dekatnya, wajahnya bingung. Aku menarik napas dalam. Anak ini sedang berjuang memperbaiki diri. Kenapa harus dia, ya Allah…

Aku mendekat tanpa marah. “Kenapa bisa begini, Enes?” Ia menunduk. “Saya gak sengaja, Bu.” Aku tersenyum kecil. “Oke, tenang. Sekarang tolong temui Pak Shoba, ya. Ceritakan apa adanya.” kataku, setelah sekilas dia menjelaakan kejadiannya. Anak-anak lain menatap heran, mungkin mengira aku akan marah besar. Padahal, yang aku butuhkan bukan kemarahan, tapi ketenangan.

Hari ini berakhir dengan banyak cerita: Anak yang takut jarum, yang pingsan, yang membuat dinding “luka”, bahkan yang pura-pura gagah tapi merem waktu disuntik. Aku pulang sambil tersenyum, hidup sebagai guru memang seperti ini: tiap hari ada drama, ada tawa, ada lelah, tapi juga ada cinta yang selalu tumbuh di antara keduanya

Baiti Jannati, Malaka Tiga, Senin, 20 Oktober 2025

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post