Telat dan Rasa Syukur
Terlambat 3 Menit, Tapi Tepat Waktu di Mata Allah
Syahbati
Ya Allah… perhitunganku pagi ini meleset. Di depan fingerprint, kulihat waktu — lewat tiga menit. Kupikir aku sudah pas, tapi ternyata tidak. Aku menarik napas dalam, menahan senyum kecil. Mungkin memang hari ini aku harus belajar tentang ikhlas dalam selisih waktu.
Jalanan menuju sekolah masih setia dengan macetnya. Beberapa truk besar seperti “pamer tenaga”, melintas di jalur sempit. Aku dan pengendara lain, termasuk anak-anak berseragam putih abu-abu, hanya bisa menunggu dengan hati yang sedikit kesal tapi tetap mencoba sabar.
Lalu, di sela hiruk pikuk itu, aku berpikir — Bisa saja ini cara Allah menyelamatkan kita. Mungkin, jika tadi aku datang lebih cepat, aku akan berpapasan dengan sesuatu yang tidak diinginkan. Atau mungkin, Allah sedang mengajarkanku satu hal: bahwa tidak semua keterlambatan berarti kekalahan. Kadang, itu justru bentuk penjagaan.
Maka aku tersenyum. Hati mulai tenang, pikiran ikut teduh. Sebab ketika prasangka baik hadir, segala hal terasa ringan. Karena sejatinya, waktu tak pernah salah. Kitalah yang sering terburu-buru, lupa bahwa setiap detik pun punya rahmat-Nya sendiri.
Berprasangka baik kepada Allah bukan hanya saat doa terkabul, tapi juga saat rencana meleset. Sebab di balik setiap “terlambat tiga menit”, bisa jadi ada cara Allah menyelamatkan kita dengan sempurna.
Rabu, 29 Oktober 2025
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan