Saraf Kejepit, Renang jadi Obat
Saraf Kejepit, Renang Jadi Obat
Syahbati
Pagi itu kolam renang masih sepi. Embun belum sepenuhnya menguap, dan air memantulkan cahaya seperti kaca biru yang dingin. Aku duduk di pinggir, mengatur napas setelah beberapa putaran. Tiba-tiba, seorang ibu paruh baya mendekat dengan senyum yang lembut tapi penuh energi.
“Renang juga, Bu?” tanyaku ramah.
“Iya, Bu. Ini sudah jadi sahabat saya sejak 2016,” jawabnya sambil menepuk bahunya pelan.
Obrolan kami mengalir. Ternyata beliau dulunya seorang bidan senior, yang kariernya begitu sibuk sampai tidak sempat memikirkan dirinya sendiri. “Zaman dulu,… bidan itu larisnya bukan main,” katanya sambil tertawa.
Dan saat itu aku langsung membayangkan beliau dengan jas bidan, wajah penuh fokus, tangan cekatan membantu persalinan, sementara tubuhnya membungkuk, miring, melengkung, mungkin dalam posisi yoga yang bahkan guru yoga pun tak berani coba.
“Tiap hari begitu, bertahun-tahun… sampai akhirnya saraf saya protes,” katanya sambil memegang pinggangnya.
“Saraf kejepit, Bu?”
“Ho’oh. Parah. Mau dioperasi dulu katanya.”
Tapi kemudian ia menunjuk ke air kolam renang yang berkilauan.
“Allah tunjukkan jalan lewat air ini. Pelan-pelan saya belajar gerak, nafas, ngambang… dulu sakitnya minta ampun. Sekarang? Alhamdulillah, makin lama makin pulih. Dokter saja heran.”
Aku tertegun. Di depanku, berdiri seorang perempuan tangguh yang telah melewati hari-hari penuh rasa sakit, tapi tetap berjuang bahkan setelah pensiun sepuluh tahun, untuk memulihkan tubuhnya.
Dan yang paling lucu?
Saat ia bilang, “Dulu saya bantu ibu melahirkan dengan segala posisi. Tapi sekarang saya yang harus belajar posisi meluruskan badan kembali. Ya sudahlah, hidup memang muter-muter.”
Lalu ia melangkah ke air dengan penuh percaya diri.
Gerakannya pelan tapi mantap, seperti seseorang yang sudah berdamai dengan tubuh dan masa lalunya.
Melihatnya, aku belajar satu hal hari itu:
Ternyata, kadang Allah sembuhkan kita bukan dengan sesuatu yang rumit… tapi lewat air yang tenang, gerakan kecil, dan kesabaran yang besar.
Dan aku pulang membawa pelajaran baru:
Kalau seorang bidan yang sudah bantu ratusan persalinan saja bisa kembali lurus tubuhnya, masa aku nggak bisa lurusin niat buat hidup lebih sehat?
Hehehe.
Sabtu, Malaka Sari, 23 Nivember 2025
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan