Gagal Mendarat di Aceh Mutar ke Medan
Gagal Mendarat di Aceh Mutar ke Medan Langit
Syahbati
“Bismillahi tawakkaltu ‘alallah, la haula wala quwwata illa billah.” Kalimat itu keluar begitu saja dari bibirku ketika pesawat mulai bergerak di landasan. Aku duduk di kursi 8F—tepat di dekat jendela, tempat favoritku setiap kali naik pesawat. Dari situ, aku bisa melihat langit, awan, dan laut yang berjarak hanya sejengkal pandang.
Jam 10.40 kami sudah siap di kabin pesawat Super Air Jet IU 994 menuju Aceh. Pesawat lumayan besar, mungkin menampung ratusan penumpang. Pagi tadi aku sempat berjuang check-in online hampir tengah malam. Maklum, kelas ekonomi, jadi dapat kursi depan adalah perjuangan yang pantas dirayakan.
Tepat pukul 11.20, pesawat lepas landas. Jakarta mengecil di bawah sana. Gedung-gedung berkilau seperti serpihan kaca di bawah sinar matahari. Aku menatapnya dalam-dalam, lalu memejamkan mata. “Ya Allah, jaga perjalanan ini,” bisikku pelan.
Beberapa kali pramugari memberi pengumuman tentang cuaca buruk. Aku menatap layar di depan kursi: Altitude 6500 feet. Di situlah rasa waswas mulai menyapa. Tapi aku mencoba mengalihkannya dengan zikir dan pandangan kagum ke luar jendela. Awan putih seperti gunung kapas, indah tapi menyimpan misteri.
Beberapa jam kemudian, pesawat mulai menurun. Dari jendela, tampak laut biru dan deretan pohon kelapa di kejauhan. Hatiku melonjak, “Ah, ini pasti Sabang!” Kupersiapkan diri untuk mendarat. Tapi yang terjadi justru sebaliknya — pesawat kembali naik, dengan dorongan tenaga yang membuat perut seperti tertinggal di kursi.
Aku spontan menatap jendela, mencari-cari tanda apa yang terjadi. Tak lama, suara pilot terdengar:
“Karena kecepatan angin di Banda Aceh terlalu tinggi, pesawat belum bisa mendarat. Kami akan mencoba sekali lagi.”
Coba lagi. Kata yang sederhana, tapi membuat jantungku berdetak lebih cepat. Aku menggenggam tangan, memandang ke awan yang mulai kelabu.
Percobaan kedua pun gagal. Kali ini, pilot memutuskan mendarat di Kuala Namo, Medan.
Ratusan penumpang turun dengan wajah letih. Kami diarahkan ke ruang tunggu, Gate 7. Tak ada yang marah, tak ada yang ribut. Semua seperti tahu: dalam perjalanan udara, yang bisa diandalkan hanya kesabaran dan doa.
Dua jam menunggu, kami kembali dipanggil. Masih pesawat yang sama. Aku duduk lagi di kursi 8F, menatap jendela yang kini mulai gelap. Pesawat mundur, siap berangkat, tapi tiba-tiba berhenti lama. Udara di kabin mulai panas. AC tak menyala.
Suasana berubah. Beberapa anak kecil mulai rewel. Seorang ibu menepuk dada anaknya yang sesak. Akhirnya, dari belakang terdengar suara:
“Pak, kami turun dulu ya. Panas sekali, nggak kuat.”
Tanpa gaduh, satu per satu penumpang berdiri. Tak ada emosi, hanya wajah lelah yang ingin mencari udara segar. Pramugari mencoba menenangkan, tapi akhirnya membiarkan. Aku ikut berdiri, menatap ke depan sambil menggeleng pelan. “Ya Allah, kami serahkan semuanya pada-Mu,” bisikku.
Kami kembali ke Gate 7. Beberapa penumpang saling bertukar senyum. Ada yang nyeletuk ringan, “Kayak film Final Destination, ya Bu?” Kami tertawa kecil, menepis rasa takut dengan humor.
Setelah sekian lama menunggu, kabar gembira datang: pesawat akan diganti. Masih Super Air Jet, tapi kali ini rasanya benar-benar super — bukan karena mereknya, tapi karena keberanian dan kesabaran kami sudah diuji habis-habisan hari itu.
Jam 19.00 kami naik lagi. Dan tepat pukul 21.00, pesawat mendarat mulus di Bandara Iskandar Muda, Aceh.
Suara tepuk tangan spontan terdengar. Beberapa ibu di belakangku menangis kecil. Aku hanya menunduk, memejamkan mata, menahan haru. “Terima kasih, ya Allah…”
Jam 22.00 aku tiba di rumah. Lelah luar biasa. Tapi rasa syukur tak terkira. Dari jam 8 pagi meninggalkan rumah di Jakarta hingga 10 malam menjejak tanah Aceh — perjalanan ini bukan hanya tentang jarak, tapi tentang keyakinan.
Kadang Allah menunda pendaratan bukan karena ingin menyulitkan kita, tapi karena ingin menyelamatkan kita. Agar kita belajar: bahwa sabar, tawakal, dan prasangka baik adalah tiga sayap yang lebih kuat dari pesawat manapun.
Langit sore itu masih menyisakan jingga di ufuk barat. Aku tersenyum, menatap dari jendela rumah. Hari ini aku benar-benar belajar — bahwa perjalanan paling panjang bukan dari Jakarta ke Aceh, tapi dari cemas menuju tenang. Dari takut menuju syukur. Dari gagal landing menuju selamat di hati yang lebih lapang.
Malaka Sari, 1 November 2025
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan