Tuhan, Cabut aja Nyawanya
Tuhan, Cabut Aja Nyawanya
Antrian pagi Sabtu di bandara Sukarno Hatta itu panjangnya kayak ular habis makan tali tambang meliuk, padat, dan penuh wajah-wajah capek. Aku berdiri di urutan ke-27 dari belakang. Di depanku maaih panjang. Satu-satunya hiburan cuma koper, trolley, dan orang-orang yang sibuk dengan HP-nya, termasuk aku.
Sampai… mataku menangkap satu tulisan mencolok di depan sana. Tulisannya di punggung kaos merah yang warnanya lebih menyala dari lampu emergency exit. Kalimatnya begini:
“TUHAN, jika ada yang mengatakan aku gendut, cabut aja nyawanya. Aku malas ribut.”
Seketika, bibirku gak bisa menahan diri. Sudut mulutku naik begitu saja. “Ya Allah, ini serius?!” batinku separuh nahan tawa, separuh istighfar.
Tapi semakin lama aku pandangi, makin lucu. Lucu karena... doanya terlalu jujur. Tapi juga... kejam! Kayak antara drama Queen dan ustazah tersinggung berat karena ditimbang pas puasa.
Awalnya aku cuma baca sekilas. Tapi lama-lama rasa penasaran memuncak. "Aku harus lihat siapa pemilik tulisan ini!" kataku dalam hati, sok jadi detektif bandara.
Aku melangkah sedikit, pura-pura nyari posisi nyaman biar bisa mengintip dengan sopan. Dan... jreng! Ya Allah… ternyata tulisan itu bener-bener match sama pemakainya! 😅
Aku spontan menutup mulut, antara menahan tawa dan rasa bersalah. “Duh, ampun Tuhan, aku bukan ngejek... cuma... ya Allah, ini antara doa dan ancaman halus,” batinku sambil pura-pura sibuk main HP.
Tiba-tiba, petugas bandara mengumumkan,
“Penumpang Air Jet tujuan Aceh, mohon bersiap di gate 5.”
Nah, si pemilik kaos merah itu langsung maju, langkahnya mantap, rambutnya dikuncir tinggi, dan—percaya gak—sambil ngunyah roti isi coklat! Aku langsung bengong. "Ya ampun, belum sempat ribut, udah healing duluan nih orang..." 😂
Aku jalan di belakangnya, dan nggak sengaja dengar dua orang cewek lain bisik-bisik,
“Itu baju lucu banget, ya?” “Iya, tapi serem juga doanya…”
Aku hampir nyipratin air mineral saking nahan ketawa.
Pas di pintu check-in, dia senyum ke petugas sambil bilang,
“Mas, tolong koper saya hati-hati ya, isinya perasaan yang udah sering diremehkan.”
Waduh. Seketika aku ingin bertepuk tangan! Ini bukan sembarang orang — ini filosofi berjalan dalam bentuk kaos merah.
Sampai akhirnya, waktu aku duduk di ruang tunggu, pikiranku belum move on juga dari tulisan itu. Antara pengen beli kaosnya, atau pengen doain biar doa itu gak terkabul beneran.
Dan dalam hati aku berdoa kecil: “Ya Allah, jangan izinkan kami terlalu sensitif sama ucapan orang lain. Apalagi sampai bikin doa setajam itu.”
Lalu kututup dengan tawa kecil, karena di dunia yang penuh komentar ini, kadang kita cuma butuh humor buat bertahan. Humor, dan sedikit self love meski lewat kaos merah yang tulisannya bikin jantung berhenti… tapi karena ngakak. 😂
Lamklat, Senin, 3 November 2025
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan