Nurbaiti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Pakaian Baru untuk Bayi Jambu

Pakaian Baru untuk Bayi Jambu

Syahbati

Aku kadang mengaku sebagai penulis amatir yang percaya diri. Alasannya sederhana. Setiap hari kuharuskan diri untuk menulis di gurusiana walau tidak bagus atau tidak panjang. Yang penting nulis.

Tapi hari ini, aku kehabisan ide. Benar-benar blank. Kosong seperti gelas kopi tubruk yang tinggal ampas.

Pulang sekolah, aku naik ke teras atas. Angin sore menampar lembut wajahku, seolah berkata, “Hai, Bu Guru… kapan nulis lagi?”

Aku mengalihkan pandangan, lalu mataku terpaku pada sekelompok kecil “bayi” yang bergelantungan di pohon jambu. Bayi-bayi jambu. Ada yang masih merah muda, ada yang remaja tanggung, ada juga yang sudah dewasa dan siap dilamar orang.

“Ya Allah… aku lupa pakaian kalian.” Aku menepuk jidat. Sudah beli plastik bening khusus buat “baju anti-perusak”, tapi malah lupa dipakaikan.

Tanpa pikir panjang, aku menyeret kursi ke taman kecil itu. Bukan untuk duduk. Tapi untuk berdiri. Ibu-ibu rumah tangga pasti paham: demi jambu manis tanpa ulat, martabat boleh dilepas, gaya boleh hilang.

Satu per satu kupakaikan baju plastik pada jambu paling kecil dulu, biar aman. Lalu ke kakak-kakaknya yang mulai genit menggantung di ujung dahan.

“Ini ya Nak bajunya. Biar nggak digigit makhluk tak diundang,” gumamku seperti menenangkan anak yang mau imunisasi.

Sesekali aku harus mematahkan dahan liar yang tumbuh seenaknya. “Kamu minggir dulu ya… kasih ruang buat adik-adikmu,” ucapku sambil menertawakan diri sendiri. Aku sadar, mungkin jika ada tetangga yang melihat, mereka bakal bertanya-tanya: Taman kecil apa penitipan anak kok ibunya ngomong sama jambu?

Setelah semua rapi, aku menarik nafas lega. Kursi kutarik kembali ke tempat semula. Aku duduk, menatap hasil karyaku: barisan jambu yang kini tampak seperti barisan balita pakai jas hujan bening.

Angin sore kembali bertiup, kali ini lebih lembut. Dan tiba-tiba, dari pohon jambu itu datang sebuah inspirasi:

Kadang ide itu muncul bukan dari buku, bukan dari secangkir kopi, tapi dari hal kecil yang kita rawat dengan hati.

Aku tersenyum. Ternyata, menulis itu sama seperti merawat jambu—harus sabar, telaten, dan mau mematahkan sedikit ego yang tumbuh liar.

Sorenya, aku pun mengetik pelan-pelan, menyetorkan ceritaku hari itu. Dan kupikir… besok, mungkin aku bisa nulis tentang mangga.

Baiti Jannati.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post