Libur yang Tak Pernah Benar-benar Libur
Libur yang Tidak Pernah Benar-Benar Libur
Hari ini aku menikmati hari libur.
Libur sekolah.
Kalimat itu terdengar ringan, padahal isinya berat—tapi manis.
Sebab bagiku, libur bukan berarti berhenti bergerak. Libur hanya memindahkan medan juang: dari kelas ke rumah, dari papan tulis ke tumpukan rencana.
Aku mulai dengan satu hal penting: menulis daftar.
Bukan karena ingin sok rapi, tapi karena kalau tidak ditulis, semuanya akan berputar-putar di kepala seperti benang kusut.
Dan beginilah isinya.
Pertama: nyuci.
Aku tidak pernah nyuci sekaligus. Aku mencicil.
Pagi-pagi tadi, baru jilbab yang beres. Setelah itu aku berangkat pengajian.
Niat di hati, pulang lanjut nyuci baju kerja.
Tapi hidup punya agenda sendiri.
Ada tamu.
Akhirnya mesin cuci pun ikut belajar sabar.
“Besok aja,” kataku pada ember—dan pada diri sendiri.
Kedua: vermak.
Beberapa baju minta dikecilkan.
Kerah koko suami ingin diganti.
Baju baru kepanjangan.
Lengan minta karet.
Mesin jahit menatapku dari sudut rumah, seolah berkata,
“Kapan kita serius, Bu?”
Ketiga: menjahit baju.
Masih ada bahan baju yang belum jadi apa-apa.
Dulu aku hobi beli bahan. Murah, katanya.
Padahal alasan sebenarnya: ingin tanganku terus terlatih.
Supaya suatu hari, aku tidak hanya pandai mengajar—
tapi juga pandai menyelesaikan.
Keempat: menata ulang lemari.
Ini bukan pekerjaan.
Ini ujian kesabaran tingkat tinggi.
Butuh satu hari penuh, mental kuat, dan niat ikhlas.
Kelima: nyetrika.
Pekerjaan yang bisa menyita waktu seharian,
dan menyisakan panas—di setrika dan di hati.
Keenam: menulis.
Ini yang paling ingin, sekaligus paling sering tertunda.
Cerpen untuk lomba.
Catatan harian.
Novel yang masih kusimpan rapi—
karena aku belum cukup berani mengirimkannya ke editor.
Ketujuh: olahraga.
Gerakan tipis-tipis.
Renang pelan-pelan.
Bukan untuk mengejar target,
tapi agar tubuhku ingat: ia juga berhak sehat.
Kedelapan: beres-beres rumah.
Nyapu, ngepel, dan berdamai dengan debu yang selalu merasa betah.
Kesembilan dan kesepuluh:
Merapikan dan merekap buku kesra.
Merapikan dan merekap buku bendahara masjid.
Angka-angka kecil yang jika salah, bisa menjadi dosa besar.
Kesebelas:
Hal lain yang belum terpikirkan.
Biasanya muncul mendadak.
Dan hampir selalu datang tanpa permisi.
Aku menutup daftar itu sambil tersenyum kecil.
Banyak, ya?
Tapi anehnya, aku tidak lelah membacanya.
Karena di balik semua itu, ada satu hal yang membuatku tenang:
aku hidup. Aku bergerak. Aku masih diberi kesempatan mengurus amanah—
sekecil apa pun.
Libur sekolah ternyata bukan tentang berhenti.
Ia tentang mengganti ritme,
mengatur ulang niat,
dan belajar ikhlas ketika tidak semua rencana selesai hari ini.
Dan kalau pun hari ini hanya jilbab yang selesai dicuci—
tidak apa-apa.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan