Berdamai dengan Hati
Berdamai dengan Hati
Refleksi Seorang Guru tentang Luka yang Tak Pernah Kita Dengarkan
Syahbati
Kalimat “berdamai dengan hati” sering kita dengar, di seminar, di buku pengembangan diri, bahkan di obrolan santai sesama guru. Mengisi liburan, hari ini akupun mengikuti seminar melalui zoom. Temanya kalimat di awal itu. Aku tersenyum sendiri sambil bertanya dalam hati: “Emangnya aku sedang bermusuhan dengan hatiku?”
Pertanyaan sederhana itu justru membawaku pada perenungan yang panjang. Sebagai guru, kita dilatih untuk kuat. Kuat menghadapi dinamika kelas, kuat mengelola emosi, kuat menuntaskan tugas, kuat menenangkan murid, bahkan saat hati sendiri sedang tidak baik-baik saja.
Sering kali, ketika lelah datang, kita berkata pada diri sendiri:
“Ah, biasa… guru lain juga lebih capek.” Saat sedih, kita menepisnya dengan alasan profesionalisme. Saat kecewa, kita bungkam, lalu melanjutkan peran.Tanpa sadar, kita sedang menyuruh hati untuk diam. Padahal hati bukan manja. Ia hanya ingin diakui keberadaannya.
Selama ini aku mengira, berdamai dengan hati berarti tidak boleh sedih, tidak boleh kecewa, apalagi menangis. Nyatanya, berdamai justru dimulai dari kejujuran:
“Ya, hari ini aku lelah.” “Ya, aku kecewa.” “Ya, aku butuh jeda.”
Mengakui perasaan bukan tanda kelemahan. Justru di situlah kekuatan itu bertumbuh. Ikhlas tidak bisa dipaksa datang. Ia hadir setelah hati didengarkan, bukan ditekan. Kita sering menjadi hakim paling keras bagi diri sendiri. Ketika gagal, kita menyalahkan diri. Ketika lelah, kita memaksa diri. Ketika tidak sempurna, kita mencaci diri. Padahal hati tidak sedang meminta solusi. Ia hanya ingin didengar, tanpa dihakimi.
Seperti murid yang kelelahan belajar. Kadang mereka tidak butuh nasihat panjang. Cukup didengarkan, cukup ditemani. Begitu pula hati kita.
Ada titik di mana kita harus jujur: hati manusia tidak diciptakan untuk memikul semuanya sendirian. Di sinilah iman menjadi sandaran. Bukan untuk menghilangkan masalah, melainkan untuk menenangkan hati yang lelah. Allah tidak menuntut kita selalu kuat. Allah hanya meminta kita datang.
“Alaa bidzikrillahi tathma’innul quluub.” Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.
Tenang bukan karena semua masalah selesai,melainkan karena hati tahu ke mana harus kembali. Mungkin selama ini kita tidak sedang bermusuhan dengan hati. Kita hanya terlalu sibuk menjadi kuat, hingga lupa menjadi manusia. Berdamai dengan hati bukan berarti hidup tanpa luka.Tetapi berhenti berperang dengan diri sendiri. Memberi ruang untuk merasa. Dan belajar memeluk diri dengan lebih lembut. Karena guru yang berdamai dengan hatinya, akan lebih mampu menghadirkan ketenangan bagi dirinya, dan bagi murid-muridnya.
Baiti Jannati, Ahad, 8 Rajab 1447 H (28 Desember 2025)
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan