Desember yang Tidak Riuh
Desember yang tidak Riuh
Syahbati
Setiap akhir tahun, tepatnya di hari terakhir bulan Desember, selalu ada kesibukan yang terasa berbeda.
Orang-orang seperti berlomba dengan waktu. Ada yang menyiapkan pesta kecil, ada yang berburu bahan bakar, ada yang sekadar ingin memastikan malam ini “terasa”.
Siang tadi aku ke pasar. Sederhana saja tujuannya: membeli karet untuk ujung lengan baju, rok, dan mukena. Walau masih perih, PR-ku makin hari justru makin menumpuk. Seolah aku sedang menabung pekerjaan—bukan disengaja, tapi entah kenapa pekerjaan-pekerjaan itu seperti kompak sedang mengerjaiku.
Aku mengerjakan sedikit demi sedikit. Mencicil. Mungkin itu caraku bertahan.
Ngomongin soal karet, dua minggu lalu mantuku memberiku sebuah gamis. Modelnya cantik, bahan jatuh. Sepertinya satu ukuran untuk semua. Di badanku, jadinya panjang dan agak jumbo. Soal longgar aku tak masalah—hampir semua bajuku memang begitu. Perutku tak serata dulu, mungkin karena kurang gerak.
Yang jadi persoalan justru lengannya. Panjang, dua lapis pula. Kalau dipotong, hilang model kerennya.
Akhirnya muncul ide dadakan. Ujung lengan bagian dalam kuberi karet. Dengan begitu, lapisan dalam akan sedikit naik, terlihat dari lapisan luar yang gombrang. Aku anggap saja ini kreasi sendiri. Sah-sah saja, kan?
Kalau ada umur, besok kami berencana silaturahmi ke rumah anak, sekalian melihat cucu. Aku ingin memakai gamis pemberian mantuku itu. Biar dia senang. Biar hatinya hangat.
Pekerjaannya belum selesai benar. Tinggal memendekkan bagian bawah, lalu dijahit ulang. Malam sudah larut. Mudah-mudahan rampung sebelum tahun benar-benar berganti.
Kembali ke pasar.
Aku mutar-mutar mencari toko yang menjual karet. Banyak yang tutup. Entah karena tanggal 31 Desember, entah karena alasan lain.
Di gang depan rumah pun suasananya tak biasa. Anak-anak riuh. Orang dewasa sibuk. Di pasar, penjual ikan dikerumuni pembeli. Tukang arang dan alat bakar sate laris manis. Penjual jagung tersenyum lega.
Beginilah akhir tahun bagi sebagian orang: perut kenyang, api menyala, tawa berderai.
Aku sendiri memilih duduk di depan laptop.
Mengedit tulisan-tulisan yang masuk ke “meja redaksi”—aku tersenyum sendiri menyebutnya begitu. Kuberi titik, koma, kubetulkan kata yang disingkat, lalu kukirim kembali ke penulis untuk dicek ulang.
Belum selesai. Tanganku sudah lelah. Kepalaku penat. Aku berhenti sejenak. Memberi kesempatan tanganku memegang yang lain.
Capek… iya.
Tapi anehnya, ada rasa syukur yang diam-diam tinggal.
Di saat banyak orang merayakan pergantian angka, aku belajar menerima bahwa tidak semua akhir tahun harus riuh. Ada yang cukup dengan duduk, dengan napas pelan, dengan pekerjaan kecil yang dikerjakan sebisanya.
Ternyata, menutup tahun tidak selalu tentang pesta. Kadang, ia hanya tentang bertahan, dan itu sudah sangat cukup.
Baiti Jannati, Rabu, 31 Desember 2025
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan