Sepotong Apel di Ruang Guru
Sepotong Apel di Ruang Guru
Syahbati
Pagi ini, ruang guru lantai dua hari itu tenang.
Tenang yang tidak canggung, tidak pula kosong. Tenang yang penuh kerja sunyi.
Para wali kelas duduk di kursi putar biru—kursi saksi bisu musim rapor. Lembar demi lembar dibuka, halaman tiga dicari, tanda tangan dibubuhkan. Setelah kepala sekolah, barulah cap menyusul. Begitulah prosedur. Begitulah tanggung jawab.
Tak ada anak yang datang menyetor tugas. Tak ada remedial. Tak ada wajah-wajah panik mengejar nilai. Hanya suara kertas, desah napas, dan sesekali gesekan kursi.
Lalu… tok… tok… tok…
“Assalamu’alaikum…”
Seisi ruang guru serempak menjawab, “Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh…”
Belum sempat benar-benar sadar siapa tamunya, seorang anak laki-laki berdiri di ambang pintu. Masih kelas X. Wajahnya bersih, berkaca mata, ganteng. Matanya jujur. Di tangannya, sebuah wadah kaca ia genggam erat, seolah membawa sesuatu yang sangat berharga.
Ia melangkah mendekati wali kelasnya, bu Badriah.
“Ibu… mau mencoba masakan saya?”
Siapa yang bisa menolak kalimat sehangat itu?
Wali kelas tersenyum lembut. “Boleh. Ini kamu yang bikin, Zakky?”
“Iya, Bu. Saya sendiri yang bikin.”
Pengakuan itu membuatku otomatis menoleh. Aku… penasaran.
“Beneran, Zakky?” aku ikut menyela. “Kamu yang bikin kue itu?”
Zakky mengangguk. Anak yang kemarin mengeluh betapa susahnya menggambar penjumlahan vektor. Anak yang berkutat dengan busur derajat dan sudut-sudut yang membangkang. Hari ini, ia datang membawa karya, bukan di kertas, tapi di wadah kaca.
Ironi yang indah.
Kesulitan mengukur sudut, tapi begitu piawai mengatur potongan dadu apel. Kesulitan menentukan resultan vektor, tapi begitu presisi menata kismis di atas puff pastry. Dan ya—dia laki-laki tulen, dengan karya selembut itu.
Aku menatapnya dengan kagum. Tak banyak bicara. Tapi bekerja. Berkarya.
“Ibu mau mencoba?” tanyanya lagi, kali ini padaku.
“Boleh dong. Ibu juga mau nyobain,” jawabku tanpa ragu.
Dengan cekatan, ia memotong sepotong kecil dan meletakkannya di wadah di depanku.
Aku berucap pelan, “Bismillahirrahmanirrahim…”
Satu suapan.
Hmm… Gurih. Manisnya pas. Wangi apel dan madu berpadu lembut.
“MasyaAllah…” refleks keluar dari bibirku.
“Apa aja bahannya ini, Zakky?”
“Apel lima biji, puff pastry, madu, gula, dan sedikit air.”
“Apa namanya?”
“Baked Apple Pie with Raisins, Bu.”
Aku tersenyum dalam hati. Tidak yakin aku sendiri bisa membuat praktikum seenak ini, hehe.
“Zakky… ibu boleh minta resepnya?”
“Boleh, Bu.”
“Nanti kirim lewat WA ya.”
Ia pamit setelah membagikan karyanya ke guru-guru lain. Langkahnya ringan. Seolah tidak sadar bahwa hari itu, ia tidak hanya membawa kue—ia membawa pelajaran.
Tak lama, notifikasi masuk. Resep lengkap. Bahkan dengan foto uji coba.
Aku menatap layar ponsel sambil tersenyum.
Hari itu aku belajar satu hal: anak-anak tidak pernah benar-benar “tidak bisa”. Mereka hanya sedang menemukan pintu masuknya sendiri.
Dan kadang, pintu itu beraroma apel, madu, dan keberanian. 😄🍎✍️
Pondok Bambu, Ruang Guru lantai 2. Selasa, 16 Desember 2025
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan