Soto Rasa Lapar
Soto Rasa Lapar
Syahbati
Rapat telah selesai. Urusan perut? Tentu saja belum. Aku menundanya dulu—bukan karena kuat, tapi karena mau mengukur dulu seberapa lama aku bisa menahan musik keroncong di dalam sana supaya tidak tampil solo konser tanpa diundang.
Mobil-mobil pihak sekolah sudah meninggalkan halaman, membawa Pak Zam menuju tempat tugas barunya. Dari guru menjadi kepala ketatausahaan. Eselon IV. Keren. Sementara itu, azan sudah menggema dari Masjid Asy-Syifa—angin seperti sengaja mengantarkannya ke telinga kami pelan-pelan.
Dan tiba-tiba…
“Aku kok merasa lapar ya? Ada ide mau makan apa?” tanyaku sambil memegangi perut yang sedang nyanyi dangdut koplo.
“Enaknya apa ya?” Nela ikut mikir sambil melirik jam.
“Aku pinginnya yang panas-panas dan pedes,” kataku sambil membayangkan kuah kuning mengepul.
Eky yang lagi sibuk mengolah nilai sampai berhenti mengetik.
“Apakah itu?”
“Soto Halim, misalnya,” jawabku sambil menelan ludah.
Lalu aku sok menggaya ala superhero fisika,
“Dan setelah shalat aku akan terbang sendiri ke sana. Lihat sendiri lebih puas dan mengunggah selera makan. Hanya yang terdekat, yang jauh nggak kuat terbang.”
Kami semua ketawa.
Tapi lapar tetap lapar.
Selesai shalat, aku langsung melesat ke depan sekolah.
Nela, Eky, dan aku adalah tiga perempuan yang sama-sama sedang diuji keimanannya oleh rasa lapar. Sementara Futy dan Lila masih kenyang. Makanan yang dibawa dari rumah belum disentuh sama sekali.
Tak sampai sepuluh menit, aku sudah menanjak tangga ruang guru lantai dua dengan tiga bungkus Soto Halim di tangan. Nafasku ngos-ngosan, tapi bukan karena jauh.
Karena aku membawa harapan tiga perempuan kelaparan.
Begitu kutaruh plastiknya di meja, aroma kuah panas naik seperti gelombang bunyi merambat di udara. Teori fisika pun menangis bahagia.
Masing-masing kami langsung mengeksekusinya. Mudah-mudahan ini kuah penyelamat asam lambung tingkat internasional. Juga solusi dari masalah hidupku sejak dua tahun lalu...senyumku diam-diam. Aku puas, walau tidak habis.
Kuperhatikan wajah Nela dan Eky, senyum merekah, bibir tambah merah, keringat berbasah, baju jadi menyempit, kupikir itu cerminan "rasa bahagia". Sama sepertiku.
Andai ini sebuah penelitian, kesimpulan ilmiahnya sederhana: "Koefisien kebahagiaan guru berbanding lurus dengan kehangatan kuah Soto Halim dan kedekatan pertemanan yang tulus karena Allah."
Ya Allah… terima kasih telah memberikan rezeki untuk kami, berikanlah rezeki untuk saudara kami yang terkena musibah di tanah air ya Rabbi. Aamiin.
Baiti Jannati, Jum'at 5 Desember 2025
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan