Kenapa Pakai Cincin di Jari Manis
KENAPA CINCIN KAWIN HARUS DI JARI MANIS?
Syahbati
Rasanya baru tadi pagi aku memandangi cincin kawinku sendiri—yang sudah lama setia di jari manis seperti pengawal setia yang tak boleh pindah pos. Tapi siang ini, di Gedung Patra Jasa, persis setelah akad nikah pasangan pengantin selesai, aku kembali dikejutkan oleh alasan yang sama yang pernah kudengar dari… siapa lagi kalau bukan Lara.
Acaranya meriah. Lampu-lampu kristal bergoyang lembut di langit-langit, seolah ikut salam hormat pada dua insan yang baru saja mengucap janji sakral. Aku duduk di samping suamiku, memegang undangan sambil melirik meja hidangan. Bukan tergoda, cuma… ya biasalah, musik keroncong di perut sudah mulai soundcheck.
Saat penghulu pamit dan para tamu mulai memindahkan perhatian pada sesi pemasangan cincin, MC-nya—perempuan ceria dengan suara bening—tiba-tiba maju ke tengah panggung.
“Bapak Ibu tamu undangan, sebelum cincin disematkan, ayo kita praktik sedikit. Kenapa cincin kawin itu selalu dipasang di jari manis?”
Aku langsung menoleh ke suamiku. “Lah, ini kan pertanyaan Lara tadi pagi…” gumamku pelan.
MC-nya kemudian mengangkat kedua tangannya dan memberi instruksi:
“Tempelkan kedua telapak tangan, lalu lipat jari tengah ke dalam—karena jari tengah itu melambangkan diri kita sendiri. Nah, sekarang coba lepaskan ibu jari… bisa, ya? Itu orang tua, suatu saat akan pergi meninggalkan kita. Coba lepaskan jari telunjuk… bisa juga. Itu saudara, mereka hidup masing-masing. Coba lepaskan jari kelingking… bisa. Itu anak, mereka nantinya akan berumah tangga sendiri.”
Semua tamu ikut mempraktikkan. Termasuk aku. Suamiku tertawa kecil waktu melihatku begitu serius seolah sedang mengikuti praktikum fisika.
“Nah,” suara MC menggelegar lembut, “coba lepaskan jari manis… bisa tidak?”
Aku tarik. Dorong. Mirip usaha buka botol jar yang tutupnya keset. Hasilnya: tidak bisa.
MC itu tersenyum manis. “Itulah pasangan hidup. Seharusnya… tidak bisa dipisahkan.”
Aku terpaku sesaat. Lara tadi bilang hal yang sama — lengkap sampai alasan emosional dan filosofisnya. Hanya saja MC tidak menjelaskan bahwa fenomena itu sebenarnya karena struktur tendon fleksor dan posisi jari yang saling terkunci membentuk gerak terikat. Nah kalau Lara, pasti nambah: “Secara ilmiah, takdir Tuhan juga punya gaya kohesi tingkat tinggi, Desy.” Ilmiah bercampur romantis—gaya khasnya.
Aku memandangi suamiku. Ia hanya tersenyum, mungkin geli melihatku yang seketika berubah dari tamu undangan menjadi mahasiswa tingkat akhir yang baru menemukan teori baru.
“Kayak yang Lara bilang kemarin,” ujarku. “Kok jawabannya sama, jangan-jangan MC-nya tanya ke Lara juga.”
Suamiku mengangkat alis. “Lara itu siapa?”
Aku menatapnya sambil menahan tawa. “Sudahlah Bang… panjang kalau dijelasin. Intinya, dia kembaran otakku.”
Acara berlanjut. Setelah cincin disematkan dan doa dipanjatkan, aku dan suami keluar dari gedung sambil tertawa ringan. Sementara tamu lain membahas dekorasi, make-up pengantin, atau menu katering, aku masih sibuk memikirkan jari manis.
Di perjalanan pulang, aku duduk santai di mobil, gak kubuka lagi map. Kami sudah di jalan tol. Aku mengelus jari sendiri.
“Pantas ya, cincin kawin ini di jari manis,” gumamku. “Karena jari ini… paling susah dilepaskan. Sama seperti ikatan hati.” "Ingat gak udah berapa lama ya cincin ini di jari manisku? Tanyaku pada suami.
"Mungkin 35 tahun lebih ya?" Jawabnya
Aku langsung ngecek, 16 Oktober 1989 sampai 16 Oktober 2025 = 36 tahun, 2 bulan 22 hari. Ternyata kalau di hitung-hitung udah segitu banyak juga kami hidup bersama.
Lara pasti akan jawab, “Betul, Desy… dan kalau ada yang melepaskan, berarti bukan jari manis yang salah. Gaya ikatnya aja yang lemah.” Iya, Lara memang suka menggabungkan fisika dengan perasaan.
Sampai di rumah, aku masih tersenyum. Hari ini aku tidak hanya melihat dua insan disatukan Allah, tapi juga disadarkan bahwa hal kecil seperti posisi cincin pun mengandung hikmah dan kebijaksanaan.
Dan mungkin… di balik semua itu, Allah sengaja menjadikan jari manis sebagai rumah cincin agar cinta tidak hanya indah dilihat orang, tapi juga kukuh dari dalam, tenang, tidak berisik, tidak dipamerkan, dan cukup dirawat dua hati yang saling tahu.
Cinta yang dipamer… ya buat dijual. Cinta yang dijaga diam-diam… itu investasi akhirat.
Aku tersenyum pelan sambil merapatkan selimut.❤️
Baiti Jannati, Ahad 7 Desember 2025
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan