Nurbaiti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Ketika Pola Ajaib Jadi Rebutan Anak-anak

Ketika Pola Ajaib Jadi Rebutan Anak-anak

Syahbati

Kenyataannya, meski polaku sudah super canggih, tetap saja ada beberapa anak yang gambarnya… hmm… bagaimana ya mengatakannya dengan sopan?

Mari kita sebut saja: salah total dengan penuh keyakinan.

Ada yang vektornya bengkok seperti jalan menuju rumah nenek di desa. Ada yang sudutnya cuma “feeling-based”, tidak ada hubungan dengan busur mana pun di dunia. Ada pula yang resultannya mengarah ke mana-mana—kecuali ke arah yang benar.

Untuk yang seperti ini, mau tak mau harus kupanggil.

Mereka mendekat dengan tatapan penuh harap dan sedikit putus asa.

“Ayo sini,” kataku, “kita lihat bareng-bareng. Ini salahnya di mana.”

Kuberikan penjelasan singkat. Kalau masih tidak paham, kusuruh tanya temannya. Kalau tetap tidak paham juga… yah, mungkin dia lahir bukan di bawah bintang vector-friendly.

Setelah mereka mencoba menggambar ulang, barulah kuberikan Pola Ajaib Nury

Dan di sinilah dramanya dimulai.

Anak pertama menempelkan polaku ke gambarnya.

Matanya membesar.

Mulutnya menganga.

Lalu keluar satu kalimat sakral:

“Kereeen bu gambarnya!”

Padahal itu gambarku. Yang digambar dengan telaten. Dengan cinta. Dengan tetesan keringat perjuangan dua kelas sebelumnya.

Tapi tak apa. Yang penting mereka senang.

Yang tak kusangka adalah efek domino setelah itu.

Anak kedua langsung menyambar. “Bu, aku mau coba juga!”

Disusul anak ketiga. “Bu, bu, cobain punyaku ya!”

Anak keempat bahkan rela antri sambil membawa penggaris sebagai “modal”.

Dalam hitungan detik, polaku berubah fungsi dari alat koreksi cepat menjadi rebutan nasional di kelas itu.

Mereka menempel-nempelkan polaku ke gambar mereka seperti sedang mengikuti audisi “Siapa Gambar Vektornya Paling Presisi?”. Ada yang gagal pas dan langsung meringis. Ada yang pas banget dan memamerkan hasilnya seperti menang piala OSN.

“Bu, jadikan dua dong polanya!” seru salah satu.

“Buat kami satu-satu, Bu!” yang lain menimpali.

Ya Allah… Baru mau daftar hak paten, sudah muncul permintaan produksi massal dari pasar lokal.

Apa mereka kira aku pabrik percetakan?

Namun di balik kekacauan kecil itu, ada satu hal yang bikin hati hangat:

Mereka bersungguh-sungguh. Mereka peduli gambar mereka benar atau tidak. Mereka senang belajar.

Dan itu adalah kemenangan kecil bagi seorang guru fisika yang sering dianggap mengajar “pelajaran paling bikin ngantuk setelah Zuhur”.

Hari itu aku pulang dengan dua kesimpulan baru:

Pola Ajaib Desy ternyata lebih hits daripada ekspektasiku.

Jika semua kelas bereaksi begini… sepertinya aku benar-benar harus mempertimbangkan untuk membuat pabrik. Atau setidaknya… membuat versi laminating.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post