Nurbaiti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Hari Muallaf Sedunia

Hari Muallaf Sedunia

Syahbati

Aku baru saja duduk, menuangkan cendol ke dalam gelas bening kesayanganku. Hijau cendolnya menggoda, santan putihnya tenang, gula merahnya mengalir pelan, seperti sore yang tak terlalu panas, tapi cukup membuat hati ingin dimanja.

Padahal cuaca hari ini ramah. Langit tidak membakar, angin sore hanya sekadar lewat, namun entah kenapa aku ingin cendol. Mungkin karena rindu rasa manis yang sederhana. Atau mungkin karena tubuh dan hati sedang ingin ditemani.

Cendol ini kubeli dari ibu langgananku. Soal rasa, tak perlu diragukan. Lengkap. Legit. Manisnya pas. Duuh… wueeenak eee.

Aku duduk sendiri. Atau setidaknya, hampir sendiri. Tak jauh dariku , si Bleki mondar-mandir. Beoku ini lincah dan aktif. Sesekali ia memberi salam, entah padaku atau pada dunia.

Saat kubalas salamnya, ia tak menjawab. Malah meloncat ke sana kemari, dibuk mematuk makanannya sendiri. Tak apa. Kehadirannya sudah cukup membuat sore ini terasa tidak sepi.

Baru beberapa sendok cendol masuk ke mulut, ponselku bergetar. Sebuah notifikasi masuk dari grup pengajianku. Aku buka perlahan. Sebuah video. Weeessh…

Aku terdiam. "Selamat Hari Mualaf Sedunia.” Aku mengernyit, lalu tersenyum kecil. Serius? Ada hari seperti ini? Aku baru tahu. Kupikir hari natal aja.

Dan seketika merasa…wah, aku ini kurang literasi rupanya. Maklum. Lagi liburan. Asyik dengan pekerjaan rumah. Jarang buka WhatsApp. Kalau buka ponsel pun, paling-paling YouTube. Mencari ceramah, amalan-amalan bulan Rajab. Aku tak mau ketinggalan ibadah di bulan yang mulia ini.

Video itu berlanjut.

Tokoh-tokoh nasional dan agama muncul satu per satu.

Menyampaikan ucapan,

memberi dukungan,

menguatkan mereka yang memilih Islam

di tengah jalan hidup yang tak selalu mudah.

Di situlah aku baru paham.

Di Indonesia, 25 Desember dipilih oleh para aktivis dan tokoh Muslim

sebagai Hari Mualaf.

Tanggal yang ramai oleh perayaan,

namun justru dipeluk

untuk mereka yang sering diuji pada hari itu.

Bukan untuk menyaingi.

Bukan untuk membandingkan.

Tapi untuk merangkul.

Sementara di belahan dunia lain,

ada pula 16 Juni,

yang oleh komunitas mualaf internasional

diperingati sebagai hari mereka.

Bukan keputusan negara,

bukan kalender resmi—

melainkan kesepakatan hati.

Aku menyeruput cendol lagi.

Dan tiba-tiba semuanya terasa masuk akal.

Seperti cendol ini.

Warnanya berbeda-beda,

tapi berpadu indah.

Hijau—iman yang baru tumbuh.

Putih—hati yang sedang belajar lembut.

Gula merah—manisnya Islam yang tidak memaksa,

namun menguatkan.

Tanggal boleh berbeda.

Nama boleh bermacam.

Namun tujuannya satu:

menguatkan langkah orang-orang yang memilih jalan cahaya.

Aku melirik Bleki.

Ia kini diam,

seolah ikut mendengarkan pikiranku.

Aku tersenyum.

Kadang,

sebuah sore yang tenang,

segela cendol,

seekor kucing,

dan satu notifikasi

cukup untuk membuat hati…

menyala pelan-pelan.

Malaka Sari, Baiti Jannati, Kamis 25 Desember 2025

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post