Nurbaiti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Paket, Doorprize no 12

Rezeki yang Tidak Pernah Salah Alamat

Hari Ahad, 7 Desember 2025, Jakarta masih terasa dingin habis subuh, ketika aku dan suami melaju pelan menuju Gedung Patra Jasa. Sahabat lama suami menikahkan putranya, dan seperti biasa, acara adat Sunda selalu jadi favoritku. Apalagi kalau sudah masuk sesi saweran. Itu lho, bagian paling seru dan paling ditunggu-tunggu oleh anak-anak muda… dan sebagian ibu-ibu yang tidak malu hati.

Tapi aku? Ah, aku masih menjaga kewibawaan—walaupun sebenarnya aku ngiler juga lihat kerumunan itu.

Setelah akad nikah selesai, kedua pengantin duduk membelakangi para tamu. Anak-anak muda sudah bersiap seperti atlet sprint. Sementara emak-emak? Duduk manis. Tak mau lomba adu refleks dengan anak-anak ABG yang kalau rebutan uang receh, kecepatannya sudah level ninja.

Aku pun duduk santai, sambil ngobrol dengan kerabat orang tua pengantin. Tapi ketika lemparan pertama melayang, mataku langsung mengikuti seperti radar mencari peluru kendali.

Lemparannya cantik—bukan uang lembaran, tetapi uang koin yang dibungkus kain tile warna-warni. Ada juga gulungan uang kecil yang dimasukkan ke sedotan. Kreasi zaman now.

Dan… BYURRR! Satu bungkusan jatuh dekat kakiku. Aku ambil. Lalu satu lagi. Dua bungkus koin sedang duduk manis di pangkuan gadis sebelahku.

Lemparan kedua datang. Aku ambil lagi dua bungkus. Plus tiga sedotan berisi dua ribuan dan lima ribuan.

Ibu-ibu di sebelahku juga mengambil. Kita berdua sampai kerja bakti membuka sedotan yang kerasnya minta ampun. “Ini isinya dua ribu Bu… oh ini lima ribu!” sambil ketawa-ketawa.

MC sempat bercanda,

“Siapa tahu ada doorprize kulkas 5 pintu ya Bu, Pak!”

Kami ketawa keras-keras. Mimpi kali, doorprize kulkas!

Acara selesai. Kami sarapan soto mie, menghangatkan perut yang masih dingin. Selesai makan, kami pamit. Nunggu pengantin ganti baju? Ah, sejam dua jam… bisa masuk angin duluan.

Di mobil, aku memperlihatkan bungkusan yang kudapat ke suami.

“Cantik yaaa,” ujarku sambil memutar bungkusan tile itu.

Saat kubalik, aku melihat sesuatu.

Ada secarik kertas kecil. Ada angka. Angka 12.

“Laaah… ini doorprize dong!” Aku ternganga. Suamiku hanya tertawa kecil, “Tapi kita udah pulang.”

Kami saling pandang. Nyesel? Sedikit.

Tapi aku bilang, “Udah… kita foto. Kirim ke paman pengantin. Kalau rezeki ya dapat. Kalau nggak ya anggap sedekah.”

Suami mengiyakan.

Dua hari berlalu.

Sepulang sekolah, kulihat sebuah paket coklat manis menunggu di depan pintu. Enteng. Tak terlalu besar.

Untuk suamiku. Dari sahabatnya.

Dengan penuh rasa penasaran bercampur lapar, aku dan Dhiya membuka paket itu. Dua plastik kue kering, keripik sukun (favoritku!), dan… di pojokan… ada plastik warna pink.

Aku ambil. Kubuka. Dan—ASTAGHFIRULLAAAH CANTIK BANGET!

Sebuah tas selempang anak muda warna pink pastel. Imut. Gemes. Dan jujur, bikin aku serasa umur turun lima belas tahun.

Kukirim foto ke suami dan bertanya, “Ini tas apaa? Cantik banget…”

Suami balas:

“Itu doorprize nomor 12. Untukmu.”

Aku langsung terdiam. Merinding.

Ya Allah… Kami sudah pasrah. Sudah mengikhlaskan. Sudah lega walaupun tidak menukar doorprize. Bahkan sudah “menghadiahkannya” secara niat kepada keluarga pengantin.

Tapi ternyata… Rezeki itu tetap pulang ke alamat aslinya. Pelan, manis, penuh kejutan. Seperti tas pink yang sekarang kupeluk erat.

Benar sekali sabda Rasulullah ﷺ:

“Tidaklah rezeki itu akan salah alamat.” Rezeki tidak akan pernah diambil orang lain, dan apa yang bukan rezekimu tidak akan menjadi milikmu.

Aku tersenyum. Dalam hati aku berbisik malu-malu:

“Ya Allah… Engkau romantis sekali memberi hadiah.”

Dan hari itu, di antara kue kering, keripik sukun, dan tas pink remaja, aku kembali belajar…

Bahwa rezeki itu bukan tentang cepat atau lambat, bukan tentang besar atau kecil, tetapi tentang kejutannya—yang kadang bikin kita tertawa, terharu, dan merasa sangat dicintai oleh-Nya.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post