Drama Gamis sempit dan Malam yang Gagal Nyenyak
Drama Gamis Sempit dan Malam yang Gagal Nyenyak
Syahbati
Tadi malam, harusnya aku tidur lelap. Harusnya, lho. Tapi kenyataan berkata lain: gak nyenyak sama sekali.
Entah kenapa, apa karena gamis yang kupakai sempit betul? Atau sebab lain yang aku gak tahu apa. Pasalnya, menjelang tidur aku ingin berganti daster, biar wangi dekat suami. Kubuka lemari, mencari daster yang sudah kusetrika asal-asalan dan kusemprot trika.
Tapi yang ku cari dan yang kudapat beda. Gamis itu langsung menampakkan diri. Padahal dia baik-baik saja dilemari. Akhirnya kuambil juga, kasian juga udah lama gak kupakai. Ah mungkin udah longgar, pikirku. Soalnya setelah sehari buang-buang air dan seharinya menetralisir, BB ku jadi 54 kg. Wah turun 2 kg ni.
Tapi...,ketika aku tidur kok ya berubah jadi kayak lilitan sushi ketat… yang ngebebat manusia, bukan rumput laut. Baru rebahan lima menit, aku merasa kayak digenggam kepiting raksasa.
Kupikir, “Ah mungkin aku yang salah posisi.” Kubalik ke kiri → tambah sesak. Kubalik ke kanan → makin kayak di-hug sama gamisnya. Telentang → napas pendek. Miring lagi → gamis makin melilit.
Aku sampai mikir, jangan-jangan gamis ini punya dendam pribadi sama aku. Atau jangan-jangan dia cemburu karena tadi pagi aku lebih milih pakai batik buat foto bareng di sekolah daripada pakai dia. Bisa jadi. Gamis juga punya hati, mungkin. Tapi masa iya aku pake gamis ke sekolah, ngawas lagi. Kecuali kalau ke pengajian baru pake gamis. Ah dasar gamis....
Akhirnya aku menyerah. Dengan langkah gontai, aku pindah ke ruang tamu. Mengendap-ngendap kayak pencuri sayuran di kebun depan rumah. Bukan karena suasananya romantis atau adem, lebih tepatnya karena di kamar hangat banget! AC dimatiin suami, dipikir aku yang kedinginan seperti dua malam sebelumnya. Kesannya tuh kayak sedang tidur di siang hari panas, padahal jam sudah lewat tengah malam.
Aku mikir, ini masih jam 1 dini hari, mau tahajud, tapi kok masih terlalu dini. Kupikir dua jam lagi aku lakukan.
Sampai di ruang tamu, aku segera merebahkan badanku di kasur tempat aku sering santai kalau lagi pingin baca. Mantap deh, posisi sudah siap tidur… eh, muncul lagi tragedi kecil: Angin kipas angin berubah-ubah mood-nya. Tadi kupikir dia mau bantu, ternyata anginnya serasa “nyenggol doang”. Sesaat ke wajah, dua detik kemudian hilang. Datang lagi tapi nyasar ke kaki. Kayak kipas angin masuk masa puber, gak stabil.
Aku menghela napas panjang. “Yaa Allah, ini malam apa ujian sabar versi syariah?”
Akhirnya aku duduk, memandang langit-langit ruang tamu, sambil mikir: “Begini amat ya perjuangan seorang perempuan yang cuma pengen tidur nyenyak.”
Tapi ada hikmahnya. Saat aku mulai rileks, aku sadar bahwa dunia ini tidak pernah benar-benar sepi. Ada suara jangkrik pelan.
Ada Suara kucing pacaran di gang. Ada suara AC dari kamar, masih nyala. Ada kipas angin yang masih bingung mau arah ke mana. Ada aku, yang sudah pasrah.
Lalu, entah bagaimana, kantuk itu datang juga. Pelan-pelan mataku berat… Leherku miring… Tangan menutup wajah sendiri… Dan akhirnya aku tidur.
Ironisnya? Tahu kapan itu terjadi? Pas aku sudah capek mikir, capek pindah tempat, capek ngelawan gamis, capek ngatur kipas. Jadi intinya: Kadang hidup baru berjalan mulus setelah kita benar-benar pasrah.
Paginya aku bangun dengan satu pelajaran penting:
“Kalau gamis terasa sempit waktu tidur, itu bukan kita yang melebar… itu gamisnya yang menyempit.” Self-defense mechanism is real. 😌
Baiti Jannati, Rabu 3 Desember 2025
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan