Penggaris, Busur dan Kesabaran
Penggaris, Busur, dan Kesabaran
Syahbati
Pukul 08.05 pagi, matahari baru saja mengintip dari balik atap sekolah, tapi aku sudah tenggelam dalam lautan buku anak-anak. Di depanku, puluhan lembar tugas berjejer seperti barisan pasukan yang menunggu divonis: Benar, salah, atau… kurang lengkap.
Sejatinya, mengoreksi itu harusnya cepat. Tinggal cek konsepnya, pahami caranya, kasih nilai, selesai. Tapi tentu saja… itu bukan versi Desy.
Begitu melihat gambar vektor sedikit miring, mataku langsung refleks bekerja lebih cepat daripada neuron fisikawan. “Ini sudutnya 30° atau cuma mirip 30°?” gumamku.
Tanganku otomatis mengambil busur derajat, benda yang entah kenapa hari ini terasa seperti stempel keadilan. Kupasang busur itu seperti hakim memasang palu, memastikan bahwa anak-anak tidak memfitnah derajat sudut yang tak berdosa.
Lalu berpindah ke gambar berikutnya. “Ini panjang vektornya 4 cm atau 3,9 cm? Jangan-jangan… 3,7 cm!” Tentu saja aku harus mengukurnya. Mana bisa nilai lahir tanpa verifikasi? Penggaris pun meluncur, menari-nari di atas kertas.
Alhasil… Pukul 11.15, aku masih berkutat di halaman 6. Pukul 14.40, baru sampai halaman 11. Pukul 16.00, aku mulai bertanya-tanya apakah aku sedang mengoreksi tugas anak SMA atau sedang ikut ujian masuk NASA.
Tapi… di balik semua drama itu, ada pelajaran yang Allah titipkan hari ini. Karena saat kuperiksa pelan-pelan, aku jadi tahu:
Ada yang gambarnya benar tapi menghitung sudutnya salah. Ada yang sudutnya benar tapi arahnya salah. Ada yang semua benar… tapi nol poin karena lupa nulis nama. Ya Allah, sabar…
Di satu sisi aku lelah, tapi di sisi lain hatiku ngembang. Rasanya seperti membuka jendela pikiran anak-anak satu per satu. Melihat di mana mereka paham, dan di mana mereka tersandung.
Dan aku sadar… Mungkin inilah kenapa guru disebut pahlawan tanpa tanda jasa: Bukan karena tak punya tanda jasa, tapi karena punya tanda sabar yang luar biasa.
Di tengah koreksian yang seakan tak pernah selesai, aku tersenyum. Dalam hati berbisik:
“Ya Allah, jadikan lelah ini lillah. Jadikan penggaris dan busurku saksi bahwa hari ini aku sudah berjuang mengukur bukan hanya sudut—tapi juga ketulusan.”
Besok, koreksian masih banyak. Tapi hari ini, aku sudah lulus satu hal: lulus sabar, meski nilai praktiknya masih remedial.
Baiti Jannati, Senin 8 Desember 2025
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan