Nurbaiti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Aku Mau Ikut Lomba Nulis Lagi

Aku Mau Ikut Lomba Nulis Lagi

Syahbati

Aku mau ikut lomba nulis lagi.

Kalimat itu tiba-tiba muncul begitu saja, tanpa aba-aba, tanpa rencana besar. Seperti bisikan kecil di antara tumpukan naskah lama dan secangkir kopi yang mulai dingin. Padahal, aku sudah pernah ikut. Bukan sekali. Bukan dua kali. Empat kali.

Tiga di antaranya dapat piala dan sertifikat. Satu kali juara dua.Dua kali juara tiga. Dan sekali… disebut sebagai penulis favorit.

Harusnya cukup, ya? Harusnya.

Tapi entah kenapa, dadaku masih terasa kosong di bagian tertentu. Bukan kosong karena kalah. Justru kosong karena merasa belum selesai.

Anehnya, lomba-lomba itu tak menjanjikan hadiah yang wah. Tak ada angka besar yang bisa dipamerkan. Tak ada janji hidup berubah drastis. Kalau mau jujur, aku ikut justru karena iseng. Atau mungkin karena ingin tahu: apa yang terjadi kalau aku nekat mengirimkan tulisanku?

Aku tidak mengejar uang. Aku mengejar dibaca.

Aku ingin tulisanku sampai ke mata orang lain. Sampai ke hati yang tidak kukenal. Aku ingin namaku berdiri sejajar, walau sebentar dengan teman-teman di grup WA lomba menulis. Teman-teman senasib: sama-sama ragu, sama-sama berharap, sama-sama deg-degan menunggu pengumuman.

Aku tahu, tulisanku belum sempurna. Jauh dari kata hebat. Masih sering belepotan oleh perasaan, kadang terlalu cerewet, kadang terlalu sunyi. Tapi justru di situlah aku ingin serius. Aku ingin melatih imajinasi. Mengasah kepekaan. Belajar menata kata agar tidak sekadar indah, tapi juga bermakna.

Aku ingin dinilai juri. Bukan untuk disanjung, tapi untuk diuji.

Aku ingin tahu, setelah sekian lama menulis di Gurusiana, menulis dari ruang guru, dari rumah, dari sela-sela lelah, apakah tulisanku sudah layak diperhitungkan? Ataukah aku masih harus banyak belajar, banyak jatuh, banyak menghapus dan menulis ulang?

Aku ingin tahu batas kemampuanku. Dan kalau bisa… melampauinya.

Ah, aku memang banyak maunya. Aku ingin ini. Aku ingin itu. Aku ingin semuanya. Dan malam ini, aku mengakuinya tanpa malu.

Aku belum puas.

Aku ingin lagi. Aku ingin mencoba lagi. Aku ingin mengirim naskah lagi, dengan jantung berdebar dan doa yang sederhana.

“Ya Allah, jika ini baik untukku, mudahkanlah. Jika tidak, ajari aku untuk lebih sabar.”

Dan di ujung doa itu, ada satu harapan yang kusembunyikan rapat-rapat, tapi tetap kusebutkan dalam hati:

Aku ingin juara satu. Aamiin.

Bukan semata soal piala. Tapi tentang keberanian mengakui: bahwa aku mencintai menulis, dan aku ingin bertumbuh bersamanya.

Baiti Jannati, Senin, 15 Desember 2025. ✍️✨

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post