Balita, Al-Fatihah dan Nasi Kebuli
Balita, Al-Fatihah, dan Nasi Kebuli
Syahbati
Di usia dua tahun dua bulan, Yuna sedang berada pada fase paling berbahaya dalam sejarah peradaban rumah tangga: fase “aku bisa apa saja dan akan kucoba semuanya.”
Mulai dari naik sepeda kecil sambil zig-zag tak beraturan, naik turun tangga tanpa takut gravitasi, sampai pretelin seluruh kosmetik emaknya dengan penuh rasa ingin tahu ilmiah. Bedak jadi pasir, lipstik jadi krayon, dan alis… ya sudahlah, biar ayahnya saja yang pusing.
Sore itu, di dalam mobil, Yuna minta HP ayahnya. Bukan buat game. Bukan buat kartun.
Tapi… YouTube hafalan Al-Fatihah.
MasyaAllah… Ayahnya langsung luluh. “Biarin aja,” katanya sambil senyum penuh harap. “Mudah-mudahan ketiduran.”
Yuna menyimak serius. Tangannya kecil, jarinya lincah. Matanya fokus. Mulutnya sesekali ikut komat-kamit.
Bismillaaahirrahmaanirrahiim… (dan mungkin juga Bismillah klik ini, klik itu).
Mobil sampai rumah. Yuna turun. Tak lama kemudian… ketiduran. Tugas suci seorang balita selesai.
Beberapa menit berselang…
“Assalamu’alaikum… paket!”
Suami-istri itu saling pandang. Paket?
“Paket apa ya, Mas? Kayaknya nggak ada yang pesan deh…”
Mas kurir mengangguk yakin. “Ada Pak. Ini pesanannya.” Sambil menunjukkan layar HP.
Nasi Kebuli.
Bukan satu. Bukan dua.
Lengkap. Komplit. Serius.
Suami dan istri itu kembali saling berpandangan. Tatapan yang sama. Tatapan penuh curiga… dan pasrah.
“Jangan-jangan…” “Iya…” “Kayaknya…”
Mereka menoleh ke arah Yuna. Balita polos itu tidur pulas, damai, tanpa rasa bersalah sedikit pun. Wajahnya seperti berkata,
Aku hanya menghafal Al-Fatihah, urusan kebuli itu takdir.
“Aduh Mas, maaf ya,” kata sang ayah sambil tersenyum kecut. “Iya… iya… tadi anak saya nggak sengaja mencet.”
Dompet dibuka. Rp365.000 berpindah tangan.
Yang pesan? Tidur nyenyak. Yang bayar? Ikhlas… setengah.
Sore tadi, nasi kebuli disantap dengan penuh perenungan.
Pelajaran hidup hari itu sederhana:
Jangan remehkan balita yang pegang HP. Jangan lengah saat YouTube terbuka. Dan yang paling penting…Hafalan Al-Fatihah itu mulia, tapi jari balita lebih cepat dari niat orang dewasa.
Balita memang belum bisa membaca, tapi sudah sangat mahir check-out pesanan.
Dan Yuna? Tetap tidur pulas. Tanpa tahu bahwa hari itu, dia resmi menjadi customer termuda nasi kebuli seharga tiga ratus enam puluh lima ribu rupiah
Baiti Jannati, Ahad 14 Desember 2025
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan