Nurbaiti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Rajab Ketukan Lembut Sebelum Ramadhan

Rajab: Ketukan Lembut Sebelum Ramadhan

Syahbati

Malam ini, Rajab sudah melangkah ke malam keduanya.

Bulan yang datang tanpa hiruk-pikuk,

namun membawa pesan yang sangat dalam.

Rajab bukan sekadar nama dalam kalender hijriah.

Ia adalah bulan pembuka, pintu awal sebelum kita benar-benar melangkah menuju Ramadhan.

Seperti tamu yang datang lebih dulu, mengetuk pelan,

mengabarkan bahwa perjalanan besar akan segera dimulai.

Rajab mengajak kita bersiap.

Bukan dengan euforia,

tetapi dengan kesadaran.

Dua bulan lagi Ramadhan akan datang.

Namun siapa yang bisa menjamin,

bahwa kaki ini masih akan menapak di bulan itu?

Bahwa napas ini masih akan sampai di sujud-sujud panjang Ramadhan?

Karena itulah Rajab istimewa.

Ia adalah kesempatan.

Kesempatan untuk menata ulang niat.

Kesempatan untuk melunakkan hati yang mungkin mengeras oleh dunia.

Kesempatan untuk menambah ibadah, bukan karena merasa mampu,

tetapi karena takut kehilangan.

Di bulan Rajab, para ulama mengingatkan:

perbanyak istighfar.

Karena dosa adalah beban terberat yang sering kita anggap ringan.

“Astaghfirullah…”

Bukan hanya di lisan,

tetapi dari hati yang sadar bahwa ia sering lalai.

Rajab juga bulan memperbanyak dzikir.

Dzikir yang diwariskan para nabi—

dzikir orang-orang yang pernah jatuh, diuji, dan hampir putus asa,

namun diselamatkan oleh kebergantungan penuh kepada Allah.

Dzikir Nabi Adam عليه السلام,

saat menyadari kesalahan dan kembali dengan penuh penyesalan:

“Rabbanaa zhalamnaa anfusanaa…”

Dzikir Nabi Yunus عليه السلام,

di kegelapan yang berlapis-lapis:

“Laa ilaaha illa anta, subhaanaka inni kuntu minazh-zhaalimiin.”

Dzikir Nabi Ayyub عليه السلام,

saat sakit, kehilangan, dan ujian panjang:

“Rabbi annii massaniyadh-dhurru wa anta arhamur-raahimiin.”

Rajab mengajarkan kita satu hal penting:

bahwa kembali kepada Allah tidak menunggu Ramadhan.

Karena ibadah bukan musiman.

Taubat bukan agenda tahunan.

Dan kedekatan dengan Allah tidak menunggu bulan mulia—

tapi dimulai dari sekarang.

Jika Rajab ini kita isi dengan kesungguhan,

maka Sya’ban akan menjadi penguat,

dan Ramadhan—jika Allah izinkan kita bertemu—

akan menjadi puncak yang benar-benar bermakna.

Rajab bukan sekadar pembuka.

Ia adalah peringatan penuh kasih dari Allah:

“Aku masih memberimu waktu.

Gunakan sebelum ia habis.”

Baiti Jannati, Ahad, 2 Rajab 1447 H, 21 Desember 2025

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post