Nurbaiti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Surat Tanpa Amplop

Surat Tanpa Amplop

Syahbati

Pukul 06.30 aku sudah duduk manis di ruang guru. Delapan menit lebih cepat dari biasanya. Entah kenapa, pagi ini rasanya ingin datang lebih awal. Mungkin karena hati sedang ingin tenang.

Aku masih berdiri, berbincang ringan dengan beberapa teman, menanyakan agenda GEMAR besok, Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak di Sekolah. Yang dengan alasan itu kabarnya Pak Menteri Kepedudukan dan Pembangunan Keluarga Indonesia Dr. H. Wihaji, S. Ag., M. Pd akan hadir besok di sekolah. Obrolan kecil yang hangat, khas pagi di ruang guru lantai dua.

Tiba-tiba pintu terbuka sedikit.

“Assalamu’alaikum…”

Seorang anak laki-laki berdiri ragu di ambang pintu. Suaranya pelan, tapi sopan. Aku menoleh dan tersenyum. Anak ini jarang sekali masuk ruang guru kecuali dipanggil.

Ia melangkah ke arahku.

“Assalamu’alaikum, Bu,” katanya lagi.

Tangan kanannya diletakkan di dada kiri, meniru gerakanku. Aku tersenyum lebih lebar. Anak-anak sudah hafal kebiasaanku: aku tidak bersalaman dengan siswa laki-laki, bukan karena dingin, tapi karena ingin menjaga wudhu.

“Wa’alaikumussalam, Radhan. Ada apa, Nak?” tanyaku lembut, sambil menirukan gerakan tangannya.

Ia tampak canggung. Matanya tak berani menatap lama.

“Saya… hanya ingin memberikan surat ini untuk Ibu.”

Sepotong kertas buku, dilipat empat, tanpa amplop. Ia menyerahkannya dengan dua tangan, penuh adab.

“Terima kasih ya, Radhan,” kataku tulus.

Ia mengangguk kecil, pamit, lalu pergi dengan langkah yang sedikit menunduk, sebuah hormat yang jarang, tapi terasa dalam.

Aku membuka lipatan kertas itu perlahan. Awalnya kupikir surat izin atau pemberitahuan sakit. Namun sejak baris pertama, dadaku mulai menghangat.

Surat pribadi.

Tentang terima kasih. Tentang rasa bersalah karena merasa terlalu merepotkan. Tentang syukur karena merasa diterima.

“Saya bersyukur karena ibu yang menjadi wali kelas saya. Maaf jika saya banyak kesalahan dan terlalu merepotkan ibu selama semester ini. Saat saya dirawat, berobat, atau bermasalah di AUVI, ibu tetap sabar menghadapi saya. Saya tidak pandai merangkai kata, tapi saya sangat tulus berterima kasih…”

Huruf-huruf itu sederhana. Tidak indah secara tata bahasa. Tapi jujur. Dan kejujuran selalu tahu jalan paling cepat ke hati.

Mataku berkaca-kaca. Menelan ludah pun terasa sulit.

Radhan memang anak istimewa. Bukan karena nilainya yang diperolehnya pada setiap mata pelajaran, tapi karena hidupnya terlalu cepat menuntutnya dewasa.

Di usia yang masih jauh dari angka dua puluh, ia memikul tanggung jawab untuk dua adiknya dan seorang nenek yang kian renta. Saat sakitnya datang, ia ke ruang perawatan sendirian. Menjalani hari-hari tanpa orang tua yang seharusnya menjadi tempat pulang. Mereka telah pergi terlalu cepat.

Aku ingin selalu berada di belakangnya, bukan untuk menonjolkan diri, tapi untuk memastikan ia tidak berjalan sendirian. Mungkin itulah sebabnya aku mencintai peranku sebagai wali kelas. Bukan karena jabatan, tapi karena kesempatan untuk menjadi tempat aman sementara bagi anak-anak yang lelah.

Pagi ini, di ruang guru yang biasa saja, selembar surat tanpa amplop mengingatkanku satu hal:

Kadang, yang paling kita butuhkan sebagai guru bukan penghargaan besar, melainkan keyakinan kecil bahwa kehadiran kita benar-benar berarti 🌿✍️

Pondok Bambu, Ruang Guru Lt.2. Kamis, 18 Desember 2025.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post