Siapa Bu Nury?
Siapa Bu Nury?
Syahbati
Hari ini ruang guru lantai dua lebih mirip pusat mitigasi nilai nasional daripada ruang istirahat. Semua sibuk mengolah angka, manggil anak, dan menghitung peluang apakah nilai 68 bisa disulap jadi 70 tanpa perlu masuk ranah musyawarah mufakat.
Aku sendiri sudah sejak pagi tenggelam di depan laptop. Menulis catatan wali kelas itu seperti merangkai lirik lagu: harus pas, lembut, tapi tetap jujur. Baru juga kutemukan kata yang pas untuk anak yang suka tidur di jam Fisika “aktif ketika dibangunkan” tiba-tiba seseorang berdiri di sampingku.
Tanpa salam. Tanpa aba-aba.
“Ibu, Bu Nury bukan?” Aku refleks menjawab, “Bukan.”
Aku menoleh ke Lati. “Bu Lati, lihat Bu Nury nggak?”
Kami berdua otomatis senyum. Senyum yang isinya campuran: sabar, geli, dan ingin ketawa tapi tetap jaga wibawa.
Lati mendekat ke anak itu. “Kamu nyari Bu Nury?” “Iya, Bu.” “Ciri-cirinya apa?” “Berkacamata, berjilbab, ada tahi lalat di pipinya,” katanya sambil menunjukkan fotoku di HP.
Ruang guru langsung auto jadi fashion show identitas guru. Beberapa teman berdiri ala model Minggu Ceria.
“Yang ini?” Rini menunjuk Nela. “Bukan, Bu.”
“Ciri lainnya?” tanya Ghi. “Keibuan, Bu.”
“Ya iyalah, masa kebapakan,” gumam Ghi.
Setelah berkeliling dan mengamati satu per satu, guru yang ia cari tetap tak ditemukan.
Saat anak itu kembali ke dekatku, Lati menanyaku keras-keras, “Bu.., ibu lihat Bu Nury hari ini?”
Aku menjawab dengan suara paling khas versiku, “Sepertinya tidak masuk.”
Beberapa menit kemudian datanglah seorang murid lain yang kebetulan lewat. “Kenal Bu Nury?” tanya Lati.
Anak itu menatapku sebentar, tersenyum, lalu bilang, “Itu, Bu. Yang lagi ngetik.”
Murid pertama itu menoleh cepat dan wajahnya langsung memerah.
“Maaf bu… saya pangling. Saya pikir ibu siapa tadi.”
Aku tersenyum. Senyum yang isinya: “Nak, ini ibu yang tiap jam fisika ngabsenin kamu di kelas…”
Di tengah kehebohan kecil itu, aku mendadak merasa perlu merangkul anak ini, bukan dengan tangan, tapi dengan perhatian.
Nak,” kataku pelan, “mau lihat rekap nilaimu nggak?” “Mau banget, Bu!” jawabnya antusias.
Aku membuka file nilainya. “Lihatlah. Kamu bisa jelaskan ke Ibu, kenapa banyak angka unik? Ini ada elang terbang, kursi terbalik, angka salto… tugasmu pun tidak maksimal. Padahal hanya menggunting dan menempel alat ukur fisika.”
Anak itu tersenyum malu. “Malas ngerjain tugas, Bu…”
Aku menarik napas. “Apakah kamu suka baca?” “Enggak, Bu.” “Terus kamu suka apa?” “Game. Sama YouTube.” Jawabnya polos tanpa dosa.
“Nak, cita-citamu apa?” “Ingin jadi orang sukses, Bu!” jawabnya penuh semangat.
Aku memegang dadaku. “Masyaa Allah… lengkap sudah.”
“Nak, orang sukses itu… pejuang. Kalau mau sukses nanti, sekarang harus berjuang. Tidak ada orang sukses yang malas belajar.”
“Iya Bu… saya nanti berubah.” “Berubah itu dari sekarang, Nak. Bukan nanti.”
Aku mengecek nilai mapel lain. Ternyata bukan hanya di fisika. Di semua mapel… kondisi nilainya sama. Membuatku ingin menghibur diri dengan es teh, tapi jam pelajaran belum selesai.
Namun di sisi lain, aku merasa bersyukur anak ini jujur. Tidak beralasan. Tidak drama. Ketulusannya malah membuatku tersentuh.
Setelah dia pergi, ruang guru kembali riuh. Tawanya lembut, tapi renungannya besar.
Satu semester mengajar, masih ada yang tak mengenal gurunya. Masih ada yang belum mencintai belajarnya. Dan masih ada yang mengejar sukses… tapi belum tahu jalannya.
Aku menatap layar laptop. Tiba-tiba terasa hangat. Ada rasa haru kecil menyelinap.
Karena kadang, dalam perjalanan menjadi guru, kita hadir setiap hari… tapi tetap tidak terlihat. Meski begitu, tugas kita tetap sama:
Menjadi cahaya. Meski kadang orang lupa dari mana cahaya itu datang.
Pondok Bambu, Ruang Guru Lantai 2, Kamis 11 Desember 2025
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan