Nurbaiti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Merawat Tubuh Setelah Sujud

Merawat Tubuh Setelah Sujud: Gerak Sadar Seorang Guru

Ada satu momen yang sering luput kita sadari sebagai guru:

bukan saat berdiri lama di kelas,

bukan pula ketika suara mulai serak menjelaskan materi,

melainkan saat tubuh akhirnya diam—setelah sujud.

Aku menyadarinya belakangan ini.

Bahwa tubuh yang setiap hari kupaksa kuat, ternyata juga ingin didengar.

Napas yang Panjang, Hati yang Tenang

Dulu, aku sering menyebutnya “ngatur pernapasan”.

Tanpa teknik rumit, tanpa hitungan baku.

Aku hanya menarik napas perlahan, lalu menghembuskannya lebih panjang.

Efeknya ternyata bertahan lama.

Hingga kini, saat aku membaca Al-Qur’an, aku merasakannya:

napasku lebih panjang, lebih tenang, dan lebih hadir.

Seolah tubuh ikut khusyuk, bukan hanya pikiran.

Aku baru sadar, merawat tubuh ternyata juga bagian dari menjaga kekhusyukan.

Gerak Kecil yang Tidak Pernah Kusebut Olahraga

Sehabis bangun tidur, aku sering memutar badan.

Bukan dengan niat olahraga, hanya agar tubuh terasa leluasa bergerak.

Tak pernah kuhitung berapa kali. Sepuluh kali mungkin.

Atau kurang. Atau lebih. Tubuhku yang tahu.

Aku juga sering berjalan dengan ujung kaki—

kadang karena bercanda, kadang karena ingin bergerak tanpa suara.

Ternyata, gerak kecil itu memberi kekuatan diam-diam pada tubuh.

Ada pula kebiasaan membuka tangan lebar-lebar di kamar mandi,

terutama saat airnya dingin menusuk kulit.

Refleks sederhana, tapi membuat dada terasa lapang dan napas lebih lega.

Tak pernah kusebut itu olahraga.

Tapi tubuhku mengingatnya sebagai bentuk perhatian.

Sajadah, Tempat Tubuh Ikut Beristirahat

Ada satu posisi duduk yang sering kulakukan setelah shalat:

kedua kaki terlipat ke belakang.

Kadang aku merebahkan badan perlahan, masih di atas sajadah.

Tak lama.

Namun cukup untuk membuat tubuh terasa lentur dan nyaman diajak bergerak kembali.

Di momen itulah aku paham:

sajadah bukan hanya tempat bersujud,

tetapi juga ruang tubuh untuk pulih dengan lembut.

Tanpa musik.

Tanpa instruksi keras.

Tanpa tuntutan harus “ideal”.

Guru, Tubuh, dan Kesadaran

Sebagai guru, kita sering lupa bahwa tubuh juga bekerja keras.

Ia berdiri saat kita mengajar,

menahan lelah saat kita mendengarkan,

dan tetap setia saat pikiran kita sibuk dengan banyak peran.

Merawat tubuh tidak selalu harus dengan olahraga berat.

Kadang cukup dengan napas yang disadari.

Gerak kecil yang tulus.

Dan jeda yang kita izinkan hadir.

Karena tubuh yang dirawat dengan penuh kesadaran

akan lebih siap melayani,

lebih kuat membersamai,

dan lebih ikhlas menjalani peran.

Dan aku belajar satu hal:

setelah sujud, tubuh pun berhak disapa.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post