Hadiah yang Sering Diabaikan
Hafiah yang Sering Diabaikan
Syahbaty
Ada satu malam,
langit tidak sekadar terbentang,
ia membuka diri.
Malam itu, Rasulullah ﷺ berjalan melampaui jarak dan nalar.
Dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha,
lalu naik menembus lapis demi lapis langit.
Beliau pulang membawa sesuatu.
Bukan emas.
Bukan mahkota.
Melainkan shalat.
Oleh-oleh paling agung
yang sering kita perlakukan paling biasa.
Sebagai guru,
aku sering berdiri di depan kelas
menghadapi anak-anak yang datang dengan mata mengantuk,
kepala penuh angka,
dan hati yang kadang entah tertinggal di mana.
Aku melihat mereka lelah,
lelah mengejar nilai,
lelah memenuhi ekspektasi,
lelah takut gagal sebelum sempat mencoba.
Ironisnya,
di sela kelelahan itu,
shalat sering menjadi yang pertama ditawar.
“Bu, nanti saja ya, masih ngerjain.”
“Bu, boleh cepat sedikit?”
“Bu, jam pelajaran masih tanggung.”
Kalimat-kalimat itu terdengar ringan,
tapi bagiku menyimpan kegelisahan yang dalam.
Aku jadi bertanya dalam hati:
kapan anak-anak ini belajar berhenti,
menyandarkan beban,
lalu bicara jujur pada Tuhannya?
Di ruang guru pun sama.
Kami para pendidik sering kehabisan waktu
bahkan untuk sekadar duduk tenang di sajadah.
Padahal kami tahu betul,
mengajar bukan hanya soal materi,
tapi tentang menjaga jiwa agar tetap utuh.
Israk Mi’raj mengajarkanku satu hal penting:
shalat bukan hadiah untuk orang yang santai,
tapi untuk mereka yang paling lelah.
Allah tahu,
manusia butuh ruang aman.
Dan shalat adalah ruang itu.
Jika Rasulullah ﷺ saja
harus naik ke langit
demi menerima perintah shalat,
mengapa kita begitu sering menurunkannya
ke urusan paling belakang?
Malam ini, 27 Rajab,
aku kembali mikir lagi.
Tentang shalat yang sering kutunda
karena merasa masih kuat.
Tentang sajadah yang menunggu
sementara aku sibuk menguatkan orang lain.
Barangkali,
bukan shalat yang berat.
Tapi kita yang lupa
bahwa tanpa shalat,
kita pelan-pelan kehilangan arah.
Dan sebagai guru,
aku ingin mulai dari diri sendiri.
Karena anak-anak tidak hanya mendengar apa yang kita ucapkan,
mereka melihat apa yang kita dahulukan.
Langit sudah menghadiahkan shalat.
Tugas kita sederhana, tapi tidak ringan:
Menjaganya.
Menghormatinya.
Dan pulang kepadanya
setiap kali dunia terasa terlalu bising.
Baiti Jannati, Kamis, 15.Januari 2026
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan