Menulis Tidak Selalu Tentang Banyak Kata
Menulis Tidak Selalu Tentang Banyak Kata
Syahbaty
Hari ini aku tidak menulis satu paragraf pun di depan layar.
Tapi aku berbicara banyak—dengan kelas, dengan kapur, dengan busur derajat, dengan warna tinta, dan diam-diam… dengan diriku sendiri.
Sejak jam ke-0, aku sudah berada di sekolah. Mendampingi anak-anak tadarus, mendengarkan lantunan ayat yang kadang masih terbata, tapi jujur dan bersungguh-sungguh. Dari situ, hari dimulai dengan doa yang tidak tertulis, tapi terasa.
Tiga kelas aku masuki hari ini.
Berpindah-pindah ruang, berpindah energi, berpindah cerita.
Materinya sama: vektor—mengukur sudut, membaca busur dengan benar, menarik garis dengan panjang tertentu. Tapi wajah anak-anak selalu berbeda, begitu juga caranya memahami.
Aku meminta mereka menggambar di sampul buku fisika.
Bukan di kertas polos.
Biar ada jejak. Biar berkesan.
Setiap vektor harus berbeda warna.
Dua vektor awal aku tentukan sudut dan panjangnya. Sisanya?
Aku lepaskan.
“Silakan kembangkan sendiri,” kataku.
Dan di situlah aku melihat: ada yang ragu, ada yang nekat, ada yang salah ukur, lalu sadar, lalu mengulang. Proses kecil yang sering luput kita rayakan, padahal di situlah belajar sebenarnya terjadi.
Jam istirahat datang.
Aku tetap di kelas. Aku puasa.
Tak ada urusan kantin, tak ada gelas minum. Justru rasanya lebih bebas—hanya fokus pada anak-anak yang masih ingin bertanya, atau sekadar ingin menunjukkan hasil gambarnya.
Empat jam berlalu.
Kakiku mulai terasa. Duduk hampir tak sempat.
Di kelas terakhir, lelah mulai mengetuk pelan. Tapi anak-anak justru makin hidup.
Aku buka sesi tanya bebas.
Mereka kepo—tentang pelajaran, tentang liburan, tentang aku.
Lalu satu pertanyaan itu datang.
“Bu, gimana sih caranya nulis supaya enak dibaca, kayak tulisan Ibu?”
Aku tersenyum. Dalam hati aku mengucap, Alhamdulillah.
Ternyata mereka membaca. Ternyata mereka memperhatikan.
Aku jawab jujur, tanpa teori berlapis-lapis.
Bahwa menulis tidak instan.
Bahwa proses itu panjang.
Bahwa buku diary—yang dulu bahkan tak berkunci karena mahal—adalah karya terbesarku.
Bahwa menulis serius baru kumulai tahun 2019.
Bahwa tekad one day one artikel itu bukan slogan, tapi latihan sabar.
Kami lalu shalat Dhuhur.
Dan di sanalah tubuhku mulai menuntut haknya.
Lelah.
Ngantuk.
Aku rebahan sebentar di masjid. Niatnya sebentar.
Ternyata Allah beri aku tidur sungguhan.
Aku terbangun, bergegas ke kelas jam ke-7.
Baru melangkah menuju meja guru…
bel berbunyi.
Pelajaran selesai.
Aku tertawa kecil.
Lega.
Sedih sedikit.
Bahagia juga.
Hari ini aku tidak menulis satu artikel pun.
Tapi aku menanam banyak kata—di kepala anak-anak, di keberanian mereka bertanya, di garis-garis vektor berwarna, dan mungkin… di satu mimpi kecil tentang menulis.
Dan aku sadar,
menulis tidak selalu tentang banyak kata.
Kadang ia hadir sebagai pelajaran yang jujur, kelelahan yang ikhlas, dan niat baik yang disandarkan pada Allah.
Karena bukankah setiap ilmu yang bermanfaat, setiap lelah yang diniatkan ibadah,
juga sedang dicatat, bukan di blog, tapi di langit?
Kamis, 8 Januari 2026
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan