Senyum yang Tak Bercerita
Senyum yang Tidak Bercerita
Malam itu aku hampir tidak datang.
Tubuhku sedang tidak bersahabat. Perihnya masih setia, bahkan setelah aku berusaha berdamai sejak pagi. Sejujurnya, rebahan adalah pilihan paling masuk akal. Tapi hidup kadang tidak berjalan di jalur “masuk akal”, ia berjalan di jalur “tidak enak menolak”.
Telepon dari teman pengajian baru kusadari satu jam kemudian. Aku minta maaf. Ternyata ia mengundangku hadir ke rumahnya, pengajian kecil selepas Isya.
Aku menimbang. Tubuhku berkata cukup, hatiku berkata berangkatlah.
Aku memilih hati.
Dengan langkah yang tidak sepenuhnya yakin, aku berangkat juga. Aku datang lebih awal, berharap tidak berpapasan dengan jamaah bapak-bapak. Duduk di sudut, mencoba terlihat biasa.
Di dalam rumah, beberapa teman sudah berkumpul. Obrolan mereka hangat, ramai, dan… lucu. Aneka cerita tentang tubuh yang mulai berkhianat: lutut berbunyi, susah berdiri, sandal hak tinggi yang “pensiun dini” dan diganti sandal plastik di tengah pesta. Tawa pecah di sana-sini.
Tuan rumah mengeluarkan “harta karun kesehatan”:
black garlic, kapsul nyeri, habbatussaudah.
Aku tersenyum ketika disodori.
“Takut ketagihan,” jawabku halus. Mereka tertawa.
Lalu seseorang berkata,
“Tapi yang paling hebat dan nggak pernah sakit di antara kita ya Bu Guru.”
Semua mata mengarah padaku.
Aku tersenyum lagi.
“Aamiin,” jawabku singkat.
Mereka tidak tahu—atau mungkin tidak melihat—bahwa sejak tadi aku berkali-kali mengubah posisi duduk. Duduk tegak terasa menyiksa, duduk miring pun tak sepenuhnya ramah. Mereka tidak bertanya kenapa aku lebih banyak diam. Kenapa senyumku seperti ditahan. Kenapa aku terlihat baik-baik saja.
Dan di situlah aku tersadar pelan-pelan:
Tidak semua luka ingin dikenal.
Tidak semua sakit perlu diceritakan.
Dan tidak semua orang harus tahu apa yang kita tanggung.
Kadang, kita memang terlihat kuat—bukan karena benar-benar kuat, tapi karena terbiasa menyembunyikan lemah.
Dan orang-orang pun percaya, karena yang tampak memang baik-baik saja.
Di antara obrolan dan tawa itu, aku berdoa dalam diam:
“Ya Allah, Engkau Maha Tahu.
Aku datang dengan sisa tenaga.
Jika senyumku menipu manusia,
jangan biarkan doaku luput dari perhatian-Mu.
Berilah aku kesembuhan.”
Malam itu aku pulang tanpa cerita besar.
Tanpa air mata di depan siapa pun.
Tapi dengan satu pelajaran kecil yang menempel lama di hati:
"Tidak semua senyum berarti tidak sakit."
Dan itu tidak apa-apa.
Baiti Jannati, Sabtu 14 Rajab 1447 H (3 Januari 2026)
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan