Nurbaiti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Hujan, Banjir, dan Syukur yang Tidak Pernah Libur

Hujan, Banjir, dan Syukur yang Tidak Pernah Libur

Hujan, Banjir, dan Syukur yang Tidak Pernah Libur

Syahbaty

Hari ini terasa luar biasa, dengan cara yang sunyi. Aku tiba di sekolah saat suasana masih lengang. Bukan karena aku terlalu pagi, tapi karena hujan masih memegang kendali. Aku merelakan diri diantar suami—sebuah keputusan yang bijak. Dalam hujan, dengan mata minus dan silinder yang tak memberi kelonggaran, memaksakan diri naik motor bukanlah keberanian, melainkan kecerobohan.

Di depan sekolah, tepat di jalan menuju sekolah tetangga, air menggenang setinggi lutut orang dewasa. Dan untuk pertama kalinya, halaman sekolah kami ikut tergenang. Itu bukan genangan biasa, ia adalah penanda, bahwa ketinggian air kali ini patut diperhitungkan.

Semua kendaraan diarahkan masuk lewat pintu samping. Jalan satu arah membuat arus sedikit tersendat, namun syukurlah aku tiba lebih awal, sebelum kemacetan ikut menumpuk kegelisahan.

Anak-anak datang dengan berbagai cerita yang menempel di seragam mereka. Ada yang tiba lebih cepat. Ini maaih aman, hanya sedikit basah. Ada yang dari rumah sudah mengenakan baju olahraga lalu berganti seragam di sekolah. Ada pula yang sebaliknya: berangkat rapi, lalu basah kuyup di jalan karena hujan tiba-tiba turun tanpa kompromi.

Dari ruang guru, aku memandang ke bawah. Jalanan dan halaman sekolah menjadi panggung kecil perjuangan. Anak-anak SD dan SMP dari sekolah sebelah berdiri ragu di tepi genangan. Untuk sampai ke sekolah mereka, harus menyeberang lewat pintu sekolah kami. Air memaksa mereka berpikir ulang tentang langkah-langkah kecil yang biasanya tak pernah dipertimbangkan.

Aku menuju kelas. Di selasar, beberapa anak mengobrol santai. Aku ikut berhenti sejenak, bertanya kabar, bercanda sekilas, menyapa mereka yang sepatunya basah, kaki yang tak beralas, dan wajah-wajah yang tetap berusaha ceria. Jas hujan disangkutkan di bangku panjang luar kelas. Mereka tertawa, saling menggoda. Hujan tak sepenuhnya berhasil mencuri semangat.

Dari balik kaca jendela kelas yang transparan, aku melihat banyak kursi masih bertengger di atas meja. Tanda yang jelas: penghuninya belum tiba. Dan jumlahnya tak sedikit.

Aku masuk kelas. Masih jam literasi. Aku mengajak mereka untuk menulis dari apa yang mereka alami. Tentang PJJ kemarin. Lalu aku mengecek satu per satu, mencatat siapa yang hadir dan siapa yang belum. Beberapa orang tua sudah menghubungiku lebih dulu, mengabari bahwa anak-anak mereka tak bisa berangkat karena jalanan terendam banjir.

Sekolah pun mengambil kebijakan yang bijak. Anak-anak yang terdampak banjir dan aksesnya terputus, diperkenankan belajar dari rumah dengan berkoordinasi langsung dengan guru masing-masing.

Hari ini, kehadiran siswa tak seragam. Ada kelas yang jumlahnya bahkan tak sampai separuh. Ada pula yang masih di atas delapan puluh persen. Namun di tengah angka-angka itu, ada rasa syukur yang tak bisa kusembunyikan.

Walau tidak semua anak hadir, aku bahagia. Aku masih bisa berdiri di depan mereka, mengajar secara langsung, tanpa layar, tanpa jeda sinyal. Hanya suara, tatap mata, dan ruang kelas yang nyata.

Di tengah hujan yang tak henti, aku kembali diingatkan bahwa semua ini bukan sekadar peristiwa alam. Ada kehendak Allah yang sedang bekerja, ada pelajaran yang sedang disampaikan, pelan-pelan, tapi dalam.

“Dan Dialah yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya.” (QS. Asy-Syura: 28)

Hujan yang hari ini menghadirkan banjir, sejatinya tetaplah rahmat. Ia menguji kesiapan kita, kesabaran kita, dan kepedulian kita satu sama lain, guru pada murid, sekolah pada keluarga, manusia pada sesamanya.

Semoga banjir dan cuaca ekstrem di Jakarta segera tertangani. Dan semoga, di tengah air yang meninggi, iman dan kepedulian kita justru semakin dalam.

Aamiin.

Baiti Jannati, Malaka 3, Kamis, 10 Sya'ban 1447 H, 29 Januari 2026

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post