Sepuluh Menit yang Mengajarkan Pasrah
Sepuluh Menit yang Mengajarkan Pasrah
Syahbati
Gerimis pagi itu belum berniat pamit.
Ia turun pelan, setia, seolah ingin memastikan aku benar-benar siap keluar rumah.
“Kalau hujan, mending diantar aja,” kata suami sambil melirik ke luar jendela.
Aku belum menjawab. Dalam kepalaku masih ada debat kecil:
Bisa kok naik motor sendiri. Pake jas hujan. Biasa juga.
Tapi hidup sering kali bukan soal bisa atau tidak bisa.
Kadang soal aman atau nekat.
Aku sudah bersiap. Jas hujan. Tas. Niat.
Hari ini ada acara Isra Mi’raj di sekolah. Aku kebagian beli kue.
Kuminta anak laki-lakiku menjaga masakan di dapur—tugas penting yang sering dianggap remeh, tapi menentukan nasib satu panci penuh.
Gerimis malah makin ramai.
Bukan lagi rintik sopan, tapi sudah mulai agak niat.
Aku membayangkan:
Motor. Pisang. Jeruk. Salak. Kotak kue.
Digantung di depan. Di kiri. Di kanan.
Lengkap sudah—aku akan tampak seperti abang-abang jualan keliling edisi ibu guru.
Ah, tidak. Ini bukan waktunya uji nyali.
Akhirnya aku menyerah dengan elegan.
“Minta diantar ya,” kataku pada suami.
Jalanan belum terlalu ramai. Tapi pengendara motor melesat cepat, semua berbalut mantel hujan.
Aku membayangkan jika tadi aku memaksa naik motor sendiri—mungkin sekarang aku sedang menahan tas belanja sambil menjaga keseimbangan dan harga diri.
Beberapa menit kemudian, jalan mulai merayap.
Macet.
Mobil bergerak pelan, seperti sedang merenungkan hidupnya sendiri.
Aku melirik jam.
Lima belas menit lagi… nyampe nggak ya?
Kok hari gini macet?
Aku menarik napas.
Ini pilihanku.
Aku tidak mengeluh.
Aku ngobrol dengan suami.
Lalu dzikir pelan.
Pagi itu, dzikir terasa seperti rem tangan—menahan hati agar tidak meluncur ke cemas.
Sebuah notifikasi masuk.
WA dari orang tua murid.
Bu, anak saya masih di jalan. Katanya macet sekali.
Aku langsung paham.
Kubalas dengan menenangkan, lalu kuteruskan ke piket sekolah.
Kadang, tugas guru bukan hanya mengajar, tapi menenangkan hati yang sedang panik di jalan.
Tak lama kemudian, jawabanku terhampar di depan mata.
Sebuah truk besar, mogok, tanpa awak, berdiri kokoh seperti monumen kesabaran.
“Oh… ini biangnya,” gumamku.
Setelah truk itu terlewati, jalan kembali bernapas.
Lancar, walau tetap basah.
Aku tiba di sekolah… telat sepuluh menit.
Jam menunjukkan 06.40.
Aku tersenyum kecil.
Sepuluh menit yang mahal.
Sepuluh menit yang penuh ikhtiar.
Sepuluh menit yang mengajarkanku satu hal sederhana:
Tidak semua keterlambatan lahir dari kelalaian.
Sebagian lahir dari perjuangan yang tak terlihat.
Hari itu aku datang bukan hanya membawa kue,
tapi juga membawa pelajaran kecil dari gerimis:
bahwa ketika niat sudah lurus,
Allah tahu jalan mana yang sedang kita tempuh—meski pelan, meski basah.
Baiti Jannati, Malaka Sari, 2 Sya'ban 1417 H, Rabu, 21 Januari 2026
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan