Nurbaiti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Tangis di Balik Angka 90

Tangis di Balik Angka 90

Tangis di Balik Angka 90

Syahbaty

 

Hari ini, aku masuk kelas X-D pada jam ke-7.

Kelas yang selalu menyambutku dengan senyum, sapa, dan canda. Kelas yang membuatku merasa fisika bukan sekadar pelajaran, tapi ruang bertumbuh bersama.

Aku memberikan tiga soal menggambar penjumlahan vektor.

Kertas folio, busur derajat, penggaris, pulpen warna-warni, dan ponsel menjadi alat tempur wajib. Menggambar vektor menuntut ketelitian. Sedikit meleset, sudut berubah. Sedikit tergesa, makna hilang. Presisi adalah taruhannya.

Empat puluh lima menit berlalu.

Bel berbunyi, tapi banyak yang belum selesai. Aku paham. Menggambar bukan lomba cepat-cepatan. Ia butuh fokus, ketenangan, dan kesabaran. Syukurnya, ada tambahan waktu dua puluh menit karena guru berikutnya masih membimbing kegiatan lain. Wajah anak-anak langsung lega.

Saat semua kertas dikumpulkan, aku kembali ke ruang guru—ke “stasiun”—mengopi sambil melihat hasil kerja mereka.

Di situlah Aura datang.

Wajahnya memelas. Matanya sembab.

“Bu… maaf saya telat…”

Tangisnya pecah begitu saja.

Aura adalah anak yang selalu duduk paling depan. Tepat di hadapan meja guru. Ia menyimak dengan serius, nyaris tanpa berkedip. Jika tak paham, keningnya berkerut. Jika aku mendekat, ia bertanya. Hari ini aku tidak memarahinya. Tidak menegurnya. Aku hanya berkeliling.

Tapi kini, ia menangis… di luar kelas.

Pelan aku bertanya,

“Pelan-pelan ya, Aura. Cerita ke Ibu.”

Dengan isak, ia menjelaskan: gambarnya sering salah. Tangannya tiba-tiba bergetar. Tremor. Garis vektor tak bisa lurus. Sudut tak bisa pas. Semakin ia memaksa, semakin tangannya tak menurut.

Aku memeluk bahunya. Membelai pipinya. Tangisnya belum reda. Tanganku berpindah ke belakang kepalanya—entah refleks, entah naluri seorang ibu. Perlahan, ia mulai tenang.

“Gak apa-apa, Aura,” kataku.

“Kamu sudah berjuang. Ini bukan kegagalan. Tanganmu tadi lagi unjuk rasa.”

Ia tersenyum kecil.

“Bu… aku takut gak dapat nilai 90. Aku mau kuliah ke luar. Aku harus dapat nilai tinggi. Nilai fisika kemarin juga masih di bawah 70…”

Aku terdiam sesaat.

Di kepalaku muncul banyak tanya yang tak terucap:

Apakah Aura sedang tertekan?

Apakah ia sedang memikul mimpi yang terlalu berat untuk usianya?

Apakah ada harapan orang tua yang tanpa sadar berubah menjadi beban?

Andai aku bisa, ingin rasanya aku duduk lebih lama dengannya. Mencari tahu pelan-pelan. Bukan untuk menghakimi siapa pun, tapi untuk memahami.

Karena sebenarnya, Aura bukan anak yang kurang pintar.

Ia seorang vokalis. Suaranya jernih, kuat, dan terlatih. Pernah aku bertanya, kenapa bisa sebagus itu.

“Dari SD sudah les, Bu. Sama Mama,” katanya.

Di sana aku mengerti: Aura adalah anak yang dibentuk dengan disiplin, dengan target, dengan standar tinggi.

Hanya saja, setiap anak punya irama belajar yang berbeda.

Aku memperhatikan: Aura agak lambat dalam berhitung, mengukur, dan mengkalibrasi. Bukan karena tidak mampu, tapi karena belum cukup terbiasa. Ia perlu lebih banyak latihan dari dasar. Pelan. Berulang. Tanpa tekanan.

Seperti suara—tidak langsung indah tanpa pemanasan.

Aku memeluknya lagi.

“Aura masih enam bulan di sekolah ini. Semua orang naik tangga itu satu-satu. Pelan. Kalau ada kemauan, Allah pasti bukakan jalan. In syaa Allah.”

Ia mengangguk.

“Gitu ya, Bu?”

“Iya. Kalau gak ngerti fisika, tinggal nanya. Ngapain nangis?”

Aku tersenyum. “Dan satu lagi… kamu tambah cantik kalau nangis.”

Ia tersipu. Tangisnya berubah jadi senyum malu.

“Bu… kalau teman-teman tahu aku nangis?”

“Cuci muka dulu. Tarik napas. Tersenyum. Kalau hati sudah nyaman, balik ke kelas. Jangan lupa izin.”

Ia pergi dengan langkah lebih ringan.

Aku duduk terdiam.

Hampir empat puluh tahun aku mengajar.

Baru kali ini ada murid yang menangis karena fisika—bukan karena dimarahi, tapi karena takut tak cukup baik untuk mimpinya sendiri.

Di hari itu aku belajar:

tugas guru bukan hanya mengajarkan konsep dan rumus,

tetapi menjadi tempat singgah ketika mimpi anak terasa terlalu berat untuk dipikul sendirian.

Dan semoga, suatu hari nanti, Aura mengerti:

bahwa Allah tidak menilai seberapa cepat ia sampai,

tetapi seberapa jujur ia berusaha.

 

 

Baiti Jannati, Malaka III, Selasa 13 Januari 2026

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post