Nurbaiti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

160 Nama dan Satu Harapan.

160 Nama dan Satu Harapan

Syahbaty

Awalnya sederhana saja.

Sehari sebelum masuk bulan suci Ramadhan, aku membuat grup tilawah Al-Qur’an, khusus untuk kelas X yang kuajar.

Tidak ada program besar. Tidak ada target muluk.

Hanya satu niat kecil:

Supaya mereka tidak lupa membaca Al-Qur’an setiap hari.

Kulempar pengumuman itu ke delapan kelas.

Dalam hati, aku berpikir,

“Ah, paling yang masuk tak separuhnya.”

Ternyata…

160 anak bergabung.

Seratus enam puluh.

Aku sempat menatap angka itu agak lama.

Bukan karena grupnya jadi ramai.

Tapi karena ternyata masih banyak hati yang mau diajak mendekat.

Sampai hari ini, yang rutin menyetor laporan bacaan ada 107 anak.

Seratus tujuh.

Artinya, setiap sore ada lebih dari seratus anak yang membuka mushafnya.

Mengeja ayat demi ayat.

Mungkin ada yang masih terbata.

Mungkin ada yang sudah lancar.

Tapi mereka membaca.

Dan itu membuatku tenang.

Di waktu senggang, kadang aku menyapa di grup.

“Sudah tilawah hari ini?”

Kadang aku hanya menulis,

“Yuk, jangan lupa satu halaman saja.”

Kadang memberi semangat kecil,

tanpa tekanan, tanpa ancaman.

Sore hari mulai terasa berbeda sekarang.

Notifikasi masuk satu per satu.

“Juz 1, 2 halaman.”

“Surah Al-Baqarah 5 ayat.”

“Sudah 3 halaman, Bu.”

Sederhana.

Tapi hangat.

Tak ada paksaan dariku.

Tak ada konsekuensi jika tidak melapor.

Aku pun ikut melaporkan bacaanku sendiri.

Bukan karena ingin terlihat rajin.

Tapi karena guru juga harus berjalan bersama, bukan hanya menyuruh dari depan.

Kalau mereka membaca satu halaman,

aku juga membaca.

Kalau mereka berjuang melawan malas,

aku pun begitu.

Lalu bagaimana dengan 53 lainnya?

Aku tidak ingin menyebut mereka tertinggal.

Mungkin mereka masih menyesuaikan diri.

Mungkin masih malu untuk melapor.

Mungkin sedang berproses dalam diam.

Aku memilih percaya.

Bahwa 53 itu bukan angka kekurangan.

Tapi angka yang sedang menunggu waktu.

Karena mencintai Al-Qur’an itu bukan perlombaan.

Bukan tentang siapa paling cepat khatam.

Tapi tentang siapa yang konsisten membuka, meski hanya sebentar.

Setiap kali notifikasi laporan masuk,

rasanya seperti melihat titik-titik kecil cahaya menyala.

Tidak heboh.

Tidak viral.

Tapi hidup.

Dan mungkin, dari 160 nama itu,

suatu hari nanti akan lahir satu hati

yang benar-benar dekat dengan Al-Qur’an.

Kalau itu terjadi,

maka semua sapaan kecil,

semua pengingat sederhana,

semua laporan sore hari itu…

tidak akan pernah sia-sia.

Semoga suatu hari nanti, ketika mereka sudah jauh melangkah, mereka masih ingat bahwa pernah ada satu grup kecil yang mengajarkan mereka untuk tidak lupa membuka mushaf setiap hari.

Baiti Jannati, Sabtu 27 Februati 2026. 10 Ramadhan 1447 H

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post