Nurbaiti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Lima Ribu Menghantui Dua Hari

Lima Ribu Menghantui Dua Hari

Syahbaty

Aku hanya ingin beli kelapa muda.

Hanya itu.

Bukan ingin masuk ke pusaran misteri ekonomi mikro.

Seorang abang penjual kerupuk berduri mendekat.

“Beli bu… dua lima belas.”

Aku menggeleng. Bukan hanya karena uang di tanganku pas untuk kelapa muda. Tapi aku mikir, beli itu tidak ada yang makan di rumah. Mau kasih tetangga, lha...ngasih kok kerupuk. Masa buka puasa pake kerupuk, setidaknya kurma atau apalah yang lebih lebih keren.

Aku menggeleng lagi. Seingatku tadi sudah kupakai isi bensin. Dompet dalam tas? Tidak yakin ada sisa.

"Goceng Bu"

Kulihat matanya. Mata yang ingin aku membelinya. Aku mulai mikir untuk membelinya. Kalau abang tukang kelapa mau, akan aku tinggal aja untuknya. Pikirku

“Pelaris bu…”

Nah. Ini senjata pamungkas. Sudah tiga kali. Ia pingin banget aku membelinya. Kalau tidak mana mungkin masih bertahan di situ setelah melihat aku menggeleng tadi. Pertahananku runtuh. Gak tega juga lihat usahanya gagal. Aku putuskan untuk mencari uang di tas.

Apalagi mengingat kata “pelaris”. Itu seperti doa yang dipaksakan masuk ke hati pembeli.

Aku pun luluh.

Kubuka kantong depan tas.

Ajaib.

Ada uang lusuh 20 ribu.

Kuberi.

Kuambil kerupuknya. Karena tidak ada plastik, kutaruh di meja abang kelapa muda.

Selesai.

Tapi ternyata belum.

Abang kerupuk itu berjalan ke kios sebelah.

Mengambil minum dingin dari lemari es.

Dan… diteguknya.

Di siang bolong.

Di bulan puasa.

Di depan mataku.

Empatiku yang tadi berkibar seperti bendera langsung turun setengah tiang.

Aku berdiri membeku.

Oh… jadi tidak puasa.

Baiklah.

Tak lama ia kembali.

Lalu menyodorkan uang lima ribu kepadaku.

“Ini ambil aja lagi bu…”

Aku seperti sedang dites IQ.

“Kenapa? Maaf ya Mas…”

“Gak apa-apa, ambil aja.”

Ditaruhnya uang itu di meja. Dia duduk sebentar sebelum pergi.

Aku terpaku.

Akhirnya karena bingung, kukembalikan juga kerupuknya.

Transaksi batal. Tanpa penjelasan. Tanpa klarifikasi. Tanpa notulen.

Masalahnya bukan selesai di situ.

Sore itu, saat berbuka, aku masih memikirkannya.

Apa salahku?

Apakah wajahku terlihat tidak ikhlas?

Apakah aku terlalu lama menggeleng sehingga dia tersinggung?

Apakah tatapanku berubah saat dia minum?

Apakah aku terlihat seperti polisi syariah dadakan?

Malamnya saat tarawih, pikiranku melayang.

Imam membaca panjang.

Aku malah menghitung kemungkinan:

Mungkin dia salah harga.

Mungkin kerupuknya yang itu tidak dijual dan dia ragu.

Mungkin uangku terlalu lusuh.

Mungkin dia merasa aku terpaksa beli.

Mungkin… dia membaca ekspresiku waktu dia minum.

Besoknya.

Aku lewat lagi di jalan itu.

Deg-degan.

Apakah dia masih jualan?

Ada.

Aku pura-pura tidak lihat.

Tapi dalam hati ingin tanya,

“Bang… kemarin itu kenapa?”

Tidak jadi.

Takut jawabannya sederhana dan justru membuatku makin malu.

Hari kedua malam. Aku cerita ke temanku.

Ia bilang, “Ya mungkin dia berubah pikiran.”

Anaknya bilang, “Mungkin dia lihat ibu melotot waktu dia minum.”

Aku tidak merasa melotot.

Tapi siapa tahu.

Sampai hari ini, misteri lima ribu itu belum terpecahkan.

Ini bukan soal nominalnya.

Ini soal transaksi yang tidak selesai dengan damai.

Sejak kejadian itu, aku sadar satu hal:

Kadang yang membuat kita tidak bisa tidur bukan masalah besar.

Tapi lima ribu rupiah yang dikembalikan tanpa alasan.

Dan sampai sekarang…

kalau dengar kata “pelaris”,

jantungku sedikit bergetar.

Baiti Jannati,

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post