Nurbaiti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Satu Nomor HP Satu Kaki

Aku mengangguk pelan.

“Min satu koma sembilan… min dua koma satu…” ulangku dalam hati seperti sedang menghafal rumus fisika. Entah kenapa terdengar seperti nilai ulangan siswa yang perlu remedial.

“Artinya gimana, Mbak?” tanyaku penasaran.

Mbak berseragam itu tersenyum profesional, menunjuk grafik yang naik turun seperti grafik detak jantung.

“Ini menunjukkan kepadatan tulang, Bu. Kalau terlalu rendah, artinya tulangnya mulai berkurang kekuatannya. Biasanya karena usia, pola makan, atau aktivitas.”

Aku manggut-manggut.

Usia.

Kata itu terdengar sederhana, tapi rasanya seperti ada yang mengetuk pelan di dalam dada. Lima puluh delapan tahun dua bulan empat hari — tadi kusebut dengan bangga, sekarang terasa seperti angka yang membawa pesan rahasia.

Aku menatap kedua kakiku.

Kaki yang dulu berlari mengejar anak-anak di kelas.

Kaki yang berdiri berjam-jam menjelaskan hukum Newton.

Kaki yang mondar-mandir memeriksa lembar jawaban, menegur siswa, berjalan ke masjid, pulang pergi sekolah tanpa banyak keluh.

Ternyata mereka juga lelah.

“Tapi masih bisa diperbaiki kok, Bu,” lanjut Mbak itu, seolah membaca pikiranku. “Rajin gerak, konsumsi kalsium, dan jaga kesehatan.”

Aku tersenyum lega.

Ah, hidup memang seperti itu ya. Selalu ada kesempatan memperbaiki.

Sambil memakai kembali sepatu dan kaos kaki, aku bergumam pelan, “Berarti harus lebih rajin jalan kaki ke kelas.”

Mbak itu tertawa kecil.

Aku pun ikut tertawa.

Lucu juga. Selama ini aku sibuk menguatkan karakter anak-anak, ternyata Allah sedang mengingatkanku untuk menguatkan tulangku sendiri.

Sebelum pergi, aku melihat lagi grafik di ponselku. Garis-garis kecil itu seperti pesan sunyi: tubuh punya batas, tapi semangat jangan.

Aku melangkah menuju kelas.

Di lorong sekolah, suara siswa riuh seperti biasa. Tidak ada yang berubah. Tapi ada sesuatu yang berbeda dalam langkahku — lebih pelan, lebih sadar, lebih bersyukur.

Hari ini aku belajar satu pelajaran baru.

Bukan tentang fisika.

Bukan tentang nilai.

Tapi tentang tubuh yang setia menemani perjalanan hidup, dan tentang usia yang bukan musuh, melainkan pengingat untuk lebih menjaga amanah.

Dan di dalam hati aku tersenyum,

“Baiklah tulangku… kita kerja sama lebih lama lagi, ya.”

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post