Delica, Salah Satu Masakan Khas Aceh
Dalica: Ketika Rasa Mengajarkan Kesabaran
Pagi itu aku ke pasar.
Bukan sekadar belanja, tapi membawa pulang kenangan yang ingin kumasak ulang.
Semua berawal dari sebuah undangan. Kami menghadiri hajatan seorang teman suami. Di sana, dapur justru menjadi pusat perhatian. Dua pemuda tampak sibuk mengurus masakan. Sebuah kuali besar berdiri kokoh, api menyala di bawahnya. Sesekali mereka mengaduk, pelan namun pasti. Hingga akhirnya api dimatikan—tanda urusan rasa telah selesai.
Mataku tertambat pada kuahnya.
Merah menyala.
Bukan merah yang garang, tapi merah yang matang. Mengundang selera. Mengundang tanya.
Kami diberi dua piring berisi nasi. Tak lama, piring itu diisi lauk dari kuali tadi. Suapan pertama membuatku berhenti sejenak. Rasanya kaya. Dalam. Ramai, tapi rapi. Lidah seperti diajak mengenal banyak hal sekaligus, tanpa dibuat bingung.
Aku melihat potongan kentang, terong, nenas, bahkan mangga. Spontan aku bertanya,
“Ini masakan apa?”
“Dalica,” jawab mereka singkat.
Aku terdiam.
Baru kali itu aku tahu, negeri ini, negeri yang sering kita sebut dengan bangga, menyimpan masakan bernama Dalica.
Sejak hari itu, niat memasak Dalica menempel di kepala. Maka pagi ini aku ke pasar. Menyiapkan segalanya. Daging. Santan. Rempah-rempah. Sayur-mayur. Daftar bahannya panjang, dan jujur saja, melelahkan jika dibaca, ada 30 nomor. Tapi justru di situlah letak keistimewaannya.
Dalica memang tidak diciptakan untuk mereka yang ingin serba cepat.
Dua jam aku di dapur. Mengupas. Mengiris. Menghaluskan. Menunggu santan menyatu dengan rempah. Api dijaga agar tidak terlalu ganas. Semua dilakukan pelan. Sabar. Seperti sedang diajari sesuatu, bukan sekadar memasak.
Dan ketika hidangan itu akhirnya siap, aku tersenyum sendiri.
Soal rasa? Jangan ditanya. Cukup lihat saja bumbunya, ia sudah bercerita banyak. Dalica hari ini bukan hanya tentang masakan khas Aceh. Ia tentang proses.
Tentang bagaimana sesuatu yang kaya tidak pernah lahir dari jalan pintas. Tentang kesabaran yang perlahan membentuk ketahanan.
Mungkin begitulah masakan Aceh. Diuji berkali-kali, tapi tetap menyajikan rasa yang utuh. Pedasnya tidak menghilangkan hikmah, pahitnya tidak mematikan harap.
Dan aku, di dapur kecil rumahku, belajar satu hal sederhana: bahwa Allah sering mengajarkan makna hidup lewat hal-hal yang tampak remeh.
sebuah kuali besar,
api yang harus dijaga,
dan waktu yang tidak bisa dipercepat.
“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 153)
Dalica mengajarkanku,
bahwa kesabaran bukan hanya soal menunggu,
tapi tentang setia pada proses,
hingga rasa menemukan bentuk terbaiknya
Catatan Dapur: Resep Dalica (Versi Rumahan)
Bagi yang ingin mencoba menghadirkan rasa Aceh di dapur sendiri, berikut resep Dalica yang aku masak hari ini.
Bahan Utama
Daging sapi ± 1 kg
Santan dari 1,5 butir kelapa
Kelapa parut sangrai (kelapa gongseng) secukupnya
Kentang, potong besar
Terong ungu, potong sedang
Kacang panjang, potong ± 7 cm
Nenas, potong kasar
Mangga mengkal 2 buah
Bumbu Halus
Bawang merah
Bawang putih
Cabai merah besar
Cabai hijau
Cabai rawit (sesuai selera)
Ketumbar bubuk ± 1 sdm
Merica bubuk secukupnya
Kunyit bubuk ± 1 sdt
Jahe ± 2 ruas
Bumbu Aromatik
Serai, memarkan (2 batang)
Lengkuas, memarkan
Daun kari
Asam jawa secukupnya
Garam secukupnya
Rempah Utuh
Kapulaga
Cengkeh
Pala
Kayu manis
Jintan
Bunga lawang
Cara Memasak
Tumis bumbu halus hingga harum dan matang.
Masukkan rempah utuh dan bumbu aromatik, aduk hingga wangi.
Masukkan daging, aduk hingga berubah warna dan bumbu meresap.
Tuang santan, masak dengan api sedang sambil sesekali diaduk.
Masukkan kelapa sangrai, kentang, terong, kacang panjang, nenas, dan tomat.
Masak perlahan dengan api kecil hingga daging empuk dan kuah mengental.
Koreksi rasa. Masak sampai semua bahan menyatu sempurna.
Baiti Jannati, Malaka 3, Sabtu 7 Februari 2026
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan