Lima Kelas, Lima Cerita, Satu Cinta
Syahbaty
Hari itu aku mengajar lima kelas. Lima suasana. Lima energi. Lima warna yang berbeda—seperti spektrum cahaya yang hanya bisa utuh jika semua hadir bersama.
Ada kelas yang selalu membuatku ingin bercanda lebih lama. Anak-anaknya hidup, responsif, dan matanya menyala ketika ditantang. Di kelas itu pula waktuku terasa berlari. Mengajar tanpa jeda membuat waktu Dhuha menjadi mepet. Padahal hari itu aku berpuasa, dan Nisfu Sya’ban pula—hari yang sayang sekali jika terlewat tanpa doa.
Aku menatap mereka sejenak, lalu memutuskan: lima soal latihan.
“Lima tercepat, dapat nilai bonus,” kataku sambil tersenyum.
Aku izin beberapa menit. Tujuanku satu: masjid.
Aku kembali dengan hati yang masih bergetar—Dhuha nyaris terlewat. Ada rasa sayang yang tertinggal karena kanyabfua kali salam. Namun langkahku terhenti ketika melihat lima buku sudah rapi di meja. Belum sempat aku bereaksi, buku-buku lain menyusul. Rebutan. Antusias. Serius.
Di dalam hati aku bersyukur. Semangat mereka pantas diacungi jempol. Maka aku mengubah rencana.
“Sepertinya semua mau dapat nilai ini,” ucapku. “Kita koreksi silang saja, ya.”
Tepuk tangan pecah. Wajah-wajah berbinar.
Aku jelaskan pembahasan satu per satu—bukan sekadar agar mereka tidak salah mengoreksi, tapi agar mereka paham. Karena fisika tidak cukup dibaca, apalagi dihafal. Ia harus dilatih, disentuh dengan soal, dipeluk dengan proses.
Bel berbunyi.
Aku menutup pelajaran dengan suara yang sengaja kuperlambat:
“Anak-anak, kalau ibu kasih soal, jangan dianggap beban. Itu latihan. Fisika itu bukan untuk dihafal, tapi dipahami. Jadi kalau ibu sering kasih soal, itu tanda ibu peduli. Ibu sayang sama kalian.”
Aku memberi salam dan melangkah keluar.
“Kami juga sayang dan senang sama ibu,” jawab mereka serempak.
Beberapa tangan membentuk simbol cinta. Aku tertawa kecil.
Di lorong sekolah, aku berhenti sebentar.
Dhuha hari hari ini nyaris terlewat. Tapi aku percaya—setiap niat baik tidak pernah benar-benar hilang. Sebab mengajar dengan cinta, kadang juga adalah ibadah.
Pondok Bambu, Selasa, 3 Februari 2026, 15 Sya'ban 1447 H
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan