Nurbaiti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Literasi Ketika Anak-anak Menukis Tentang Dirinya Sendiri

Literasi : Ketika Anak-Anak Menulis Tentang Dirinya Sendiri

Syahbaty

Saya sering berpikir, apa sebenarnya yang sedang kita harapkan dari kegiatan literasi di sekolah?

Apakah tulisan yang rapi, bahasa yang baku, atau paragraf yang sempurna?

Semakin lama saya membersamai anak-anak, semakin saya sadar: literasi bukan tentang kesempurnaan tulisan, melainkan tentang keberanian menyuarakan isi hati.

Di sekolah, setiap jenjang memiliki denyutnya sendiri. Dan literasi yang baik adalah literasi yang mau mendengarkan denyut itu.

Anak-anak kelas X sedang belajar mengambil keputusan besar pertama dalam hidup mereka. Memilih empat mata pelajaran bukan sekadar urusan akademik, tetapi tentang rasa takut gagal, kekhawatiran tidak mampu, dan harapan agar pilihan itu kelak mengantar mereka pada cita-cita. Di lembar literasi, kegelisahan itu mengalir apa adanya. Ada yang menulis dengan hati-hati, ada yang menumpahkan rasa takutnya dengan jujur. Saya membaca tulisan-tulisan itu dengan satu kesadaran: mereka sedang belajar mengenali diri sendiri.

Kelas XI berada di fase yang berbeda. Masa di mana mimpi mulai terasa dekat, tetapi belum sepenuhnya berani direngkuh. Ketika alumni datang dan bercerita tentang kampus, jurusan, dan perjuangan mereka, anak-anak XI tidak hanya mendengar—mereka membandingkan, membayangkan, dan diam-diam bertanya pada dirinya sendiri, “Apakah aku bisa seperti itu?”

Tulisan mereka bukan sekadar refleksi, melainkan cermin dari proses tumbuh yang sedang berlangsung.

Sementara itu, kelas XII menulis dengan rasa yang lebih berat. Pilihan hidup tidak lagi bisa ditunda. Ada yang mantap melanjutkan pendidikan, ada yang memilih jalan bekerja, dan ada pula yang masih berjuang berdamai dengan kenyataan. Dalam tulisan mereka, saya menemukan kalimat-kalimat yang sederhana, namun sarat makna. Di sana ada harap, ada pasrah, dan ada doa yang tak selalu diucapkan dengan lantang.

Di titik ini saya memahami: literasi adalah ruang aman.

Ruang di mana anak-anak boleh jujur tanpa takut dinilai.

Ruang di mana tulisan menjadi teman bicara saat mereka belum siap bercerita dengan suara.

Sebagai guru, tugas kita bukan memburu hasil terbaik, melainkan menyediakan ruang yang paling manusiawi. Ruang untuk menulis, merenung, dan tumbuh.

Tulisan mereka mungkin belum indah, tetapi di sanalah benih kesadaran diri ditanam. Dan kelak, ketika mereka melangkah lebih jauh, mungkin mereka akan lupa isi tulisannya—namun tidak dengan rasa yang pernah mereka tuangkan.

Karena literasi yang hidup bukan tentang kata-kata yang sempurna,

melainkan tentang hati yang akhirnya berani bicara.

Baiti Jannati, Rabu, 5 Februari 2026

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post