Malam Pertama Tarawih
Malam Pertama Tarawih: Lautan Saf dan Getaran Hati
Malam ini tarawih pertama.
Langit seperti ikut menunduk khusyuk. Udara terasa lebih tenang, lebih lembut dari biasanya. Seakan bumi tahu bahwa tamu agung benar-benar telah datang.
Masjid penuh.
Jamaah ibu-ibu lima saf lebih. Mungkin mencapai delapan puluh orang. Saf bapak-bapak juga tak kalah padat. Anak-anak kecil ikut berlarian kecil di sela-sela jamaah, menghadirkan riuh yang justru terasa menenangkan. Beginilah Ramadhan — selalu membawa kehidupan.
Imam membaca ayat demi ayat dari Surah Al-Baqarah.
Suaranya merdu. Tartil. Jelas.
Setiap huruf terasa hidup.
Setiap ayat seperti mengetuk pintu hati.
Tak ada yang tergesa.
Tak ada yang ingin cepat selesai.
Waktu seakan melambat, memberi ruang bagi jiwa untuk kembali pulang kepada Rabb-nya.
Delapan rakaat berlalu.
Sebagian jamaah perlahan mundur ke belakang. Ada yang duduk sejenak, ada yang melanjutkan witir sendiri. Mungkin karena lelah, mungkin karena keterbatasan fisik, mungkin karena kebiasaan yang telah lama dijalani.
Sementara itu, sebagian lainnya tetap berdiri bersama imam, melanjutkan hingga dua puluh rakaat dan ditutup dengan witir.
Tak ada yang lebih benar, tak ada yang lebih mulia.
Semua berjalan sesuai kemampuan.
Bukankah Allah berfirman bahwa Dia tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya?
Yang indah dari malam ini bukan jumlah rakaatnya.
Yang indah adalah langkah kaki yang datang ke masjid.
Yang indah adalah hati yang rindu berdiri lama di hadapan Allah.
Aku memandang saf-saf itu.
Orang tua yang berjalan perlahan.
Ibu-ibu dengan mukena putih.
Anak-anak yang belajar mengenal masjid.
Para ayah yang menundukkan kepala dalam sujud panjang.
Ramadhan benar-benar mempersatukan.
Malam pertama ini seperti pengingat:
bahwa kita semua sedang dalam perjalanan yang sama — perjalanan kembali kepada Allah.
Entah kita hanya mampu delapan rakaat, atau sanggup hingga dua puluh, yang terpenting adalah hati yang hadir, jiwa yang tunduk, dan niat yang lurus.
Semoga langkah kecil malam ini menjadi saksi.
Semoga setiap sujud menjadi penghapus dosa.
Semoga Ramadhan kali ini benar-benar mengubah kita.
Dan ketika tarawih usai,
masjid perlahan kosong,
namun hati terasa penuh.
Ramadhan baru saja dimulai.
Rabu malam, 01 Ramadhan 1447 H. 18 Februari 2026
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan