Kursi yang Ternyata Sedang Dipakai Shalat
Kursi yang Ternyata Sedang Dipakai Shalat
Syahbaty
Kami shalat dhuhur berjamaah di ruang guru seperti biasa. Suasananya tenang, khusyuk, dan penuh kekhidmatan… sampai akhirnya muncul satu adegan yang rasanya layak masuk kategori komedi religi tanpa skenario.
Cici datang sedikit terlambat. Ia masbuk, tertinggal satu rakaat. Sementara kami sudah hampir selesai rakaat pertama.
Di samping saf, ada kursi yang dipakai Cici untuk shalat duduk karena sedang sakit. Kursi itu jadi bagian penting dari ibadah siang itu, walau ternyata tidak semua orang menyadarinya.
Ketika kami salam, Cici berdiri melanjutkan rakaat terakhirnya. Semua berjalan normal. Tenang. Damai.
Lalu… datanglah Fifi.
Dengan niat baik merapikan ruangan, Fifi melihat kursi kosong di samping saf. Tanpa curiga sedikit pun, ia menggeser kursi itu menjauh.
Masalahnya… kursi itu tidak kosong secara fungsi.
Itu adalah kursi cadangan sujud milik Cici.
Cici pun sampai pada gerakan i’tidal. Tangannya mulai turun perlahan, bersiap meraba kursi di belaknagnya untuk duduk menggantikan sujud.
Tangannya mencari.
Tidak ada.
Mencari lagi.
Tetap tidak ada.
Tangannya menggantung di udara seperti sinyal Wi-Fi yang hilang.
Akhirnya Cici melirik sedikit, lalu menoleh, dan melihat kursinya sudah pindah alamat.
Dengan suara setengah panik tapi tetap menjaga adab shalat, ia spontan berkata:
“Yah Fifi… kenapa geser kursinya? Aku lagi shalat… ini rakaat terakhir…”
Dan… terjadilah sesuatu yang jarang ada di buku fikih: percakapan singkat di tengah rakaat terakhir.
Kami yang memahami situasinya langsung menahan tawa. Bahu bergetar. Bibir digigit. Ada yang pura-pura batuk supaya tidak pecah.
Fifi langsung kaget. Wajahnya berubah antara bersalah dan bingung.
“Oh ya Allah… maaf Ci! Aku kira kursinya udah gak dipakai…”
Ternyata bukan disengaja. Bukan juga sabotase ibadah. Hanya kesalahpahaman antara niat merapikan ruangan dan kebutuhan sujud darurat.
Akhirnya Cici menggeser kursinya mendekati dinding, lalu dengan tenang mengulang shalat Dhuhurnya.
Sementara Fifi, masih membawa rasa bersalah tingkat tinggi, bergeser pelan di sebelah kanan Cici, lalu takbiratul ihram.
Mungkin dalam hatinya ia berdoa tambahan: Ya Allah, ampuni hamba yang tanpa sengaja memindahkan fasilitas ibadah orang lain.
Aku sendiri masih menahan senyum. Kadang ruang guru bukan hanya tempat mengajar, tapi juga tempat Allah menyelipkan humor kecil agar kami tetap ringan menjalani hari.
Dan siang itu kami belajar satu hal penting: Tidak semua kursi yang terlihat kosong… benar-benar kosong. Ada yang sedang dipakai untuk ibadah.
Aku sendiri masih menahan senyum sejak kejadian kursi berpindah tanpa izin spiritual itu.
Ruang guru kembali tenang. Suara takbir pelan terdengar dari Fifi yang mulai shalat dengan ekspresi penuh penyesalan. Sementara Cici mengulang shalatnya dengan khusyuk, kali ini kursinya diposisikan sangat dekat dinding — mungkin supaya tidak lagi “menghilang secara misterius.”
Beberapa menit kemudian semuanya selesai.
Cici menghampiriku.
Wajahnya sudah santai, bahkan mulai ikut tertawa mengingat kejadian barusan.
Aku pun berkata pelan,
“Ci… sebenarnya tadi gak harus ngulang shalat.”
Dia langsung menoleh.
“Hah? Serius?”
“Iya… tadi tanpa bicara pun, tinggal geser lagi kursinya, lanjutkan saja shalatnya. Gak batal kok.”
Cici terdiam dua detik.
Lalu menepuk jidatnya sendiri.
“Ya Allah… jadi aku tadi ngulang karena panik ya?”
Aku mengangguk sambil menahan tawa.
Fifi yang mendengar dari samping langsung ikut bersuara,
“Berarti aku dosa dobel dong? Udah mindahin kursi, bikin orang ngulang shalat lagi.”
Kami semua langsung tertawa.
Aku cepat menenangkan,
“Enggak… ini namanya pahala tambahan. Bonus rakaat tak terencana.”
Ruang guru kembali ramai oleh tawa kecil yang hangat.
Hari itu kami belajar banyak hal: tentang fiqih, tentang kepanikan, dan tentang satu fakta penting—
di ruang guru, bahkan kursi pun bisa punya peran besar dalam sejarah shalat Dhuhur berjamaah.
Sejak hari itu, setiap ada kursi di dekat saf, kami selalu saling mengingatkan:
“Pastikan dulu… itu kursi kosong… atau lagi ibadah.”
Dan setiap kali mengingatnya, aku masih tersenyum sendiri.
Karena ternyata, bukan hanya manusia yang bisa masbuk.
Kursi pun bisa ikut “tertinggal rakaat.”
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan