Nurbaiti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Di Bangku Belakang Menuju Terminal 2E

Di Bangku Belakang Menuju Terminal 2E

Syahbati

Saat ini aku duduk manis bersama suami di bangku belakang sopir Grab online yang dikendarai oleh Pak Joson Hutajulu. Mobil mungil Agya merah berpenumpang tiga orang ini terus melaju, mengantarkan kami menuju Bandara Soekarno-Hatta.

Rute yang ditempuh berbeda dari biasanya. Kami masuk tol dari arah Pondok Gede. Mungkin aplikasi sedang mencari jalan ternyaman agar terhindar dari macet. Di layar ponsel tertulis: 65 menit perjalanan.

Aku menarik napas pelan.

“Yaa Allah… berilah keselamatan bagi kami.”

Di dalam mobil hampir tak ada aktivitas. Sunyi, tapi bukan sunyi yang canggung. Lebih seperti sunyi yang sibuk dengan dunianya masing-masing.

Sejak naik mobil, suamiku langsung tenggelam dalam rutinitasnya. Mushaf kecil terbuka di tangannya. Bibirnya bergerak perlahan. Sepertinya ia sedang mengejar khatam Al-Qur’an yang ketiga di bulan Ramadhan ini.

Aku melirik sebentar.

Lalu menunduk lagi ke ponsel.

Dan ya… aku sibuk. Tapi sibuk yang agak… tidak jelas.

Padahal aku sendiri belum khatam.

Andai aku mengikuti caranya — setiap ada kesempatan langsung tilawah — mungkin aku pun bisa seperti dirinya. Tidak menunggu waktu longgar. Tidak menunggu suasana sempurna.

Aku tersenyum kecil sendiri.

Pertahananku memang lemah.

Setan itu lucu. Saat sadar sedang digoda, bukannya menolak, aku malah seperti ikut duduk di sampingnya.

Astaghfirullah…

Perjalanan masih 36 menit lagi menuju Terminal 2E.

“Lancar ya Allah… selamatkan perjalanan kami… Aamiin.”

Mobil melaju stabil. Jalan tol panjang seperti garis waktu yang mengajak berpikir.

Aku kembali melirik suami.

Masih membaca.

Tenang.

Konsisten.

Seolah dunia di luar kaca mobil tidak terlalu penting dibanding ayat demi ayat yang sedang ia temui.

Dan tiba-tiba aku merasa malu.

Dari tadi duduk di sebelahnya, kesannya aku hanya bermain ponsel. Padahal sebenarnya aku sedang menulis perjalanan indah Ramadhan ini. Tapi tetap saja… rasanya kalah khusyuk.

Aku tertawa kecil dalam hati.

Lucu ya manusia. Sudah tahu yang lebih baik, tapi masih saja menunda.

Baiklah.

Sekarang aku mau ikut kebiasaan suami.

Pelan-pelan aku menutup aplikasi tulisan ini.

Kali ini bukan berhenti menulis.

Tapi berhenti sebentar… untuk mengisi isi tulisan dengan sesuatu yang lebih penting.

Aku mengambil mushaf.

Membukanya perlahan.

Mobil kecil ini tetap melaju.

Di depan, Pak Joson fokus menyetir. Di sampingku, suami terus membaca. Dan di kursi belakang ini, akhirnya aku ikut memulai.

Mungkin perjalanan ke bandara ini bukan sekadar perpindahan tempat.

Tapi perpindahan niat.

Dari sibuk yang kosong… menuju sibuk yang menenangkan.

Nanti aku sambung lagi, In Syaa Allaah...

Dalam Perjalanan menuju Terminal Sutta. Sabtu, 14 Maret 2026, 24 Ramadhan 1447 H.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post