Duduk Manis Menuju Langit
Duduk Manis Menuju Langit
Tak banyak yang kubawa hari ini.
Tas gembok berisi kue-kue kecil ikut menemaniku, entah untuk siapa nanti dibagikan. Baju milikku dan suami menyatu dalam satu koper — seperti perjalanan kami yang selalu belajar berjalan dalam arah yang sama. Tas krem selempang kecil berisi identitas diri kusangkut menyilang di bahu. Mukena, sajadah tipis, dan Al-Qur’an mini kugenggam erat di tangan, benda-benda kecil yang rasanya lebih menenangkan daripada apa pun yang tersimpan di koper.
Ponakan mengantarkan kami ke bandara. Caca dan Ria ikut menemani, membuat suasana keberangkatan terasa hangat, bukan perpisahan yang berat.
Kami tiba di Bandara Sultan Iskandar Muda lebih awal. Sekitar satu jam sebelum keberangkatan. Jarak dari rumah memang dekat, hanya sepuluh sampai lima belas menit perjalanan. Rasanya seperti belum sempat rindu rumah, tapi sudah harus pergi lagi.
Seperti musafir pada umumnya, kami menunaikan shalat Dhuhur dan Ashar sekaligus — jama’ qasar. Ada rasa berbeda setiap kali shalat di perjalanan. Lebih hening. Lebih sadar bahwa manusia ini sebenarnya hanya sedang singgah dari satu tempat ke tempat lain.
Setelah itu… kami menunggu.
Dan menunggu.
Lalu menunggu lagi.
Pengumuman dari intercom akhirnya terdengar:
Pesawat delay.
Yang seharusnya berangkat pukul 14.05 berubah menjadi 15.05.
Kecewa? Tentu saja. Manusia mana yang tidak sedikit menghela napas ketika rencana bergeser satu jam?
Sebagai obat penenang hati versi maskapai, kami diberi snack: dua saset biskuit dan satu air mineral gelas berlogo batik.
Sayangnya, rasa kecewa memang tidak bisa ditukar dengan biskuit. Hehe 😏
Untuk mengusir bosan, suamiku langsung membuka HP dan membaca Al-Qur’an dari aplikasi. Konsisten sekali. Setiap ada waktu kosong, selalu kembali ke tilawah.
Sementara aku…
Awalnya ikut membaca beberapa ayat.
Lalu mataku mulai berkelana.
Bukan ke ayat berikutnya.
Tapi ke rasa kantuk.
Aku memutar bola mata, mencoba melawan. Gagal. Ngantuk datang tanpa permisi.
Akhirnya mataku benar-benar “berwisata”. Aku membaca setiap tiang di bandara. Pada beberapa pilar, terpampang tulisan Asmaul Husna dalam kaligrafi hitam yang indah. Tegas, elegan, dan menenangkan.
Nama-nama Allah berdiri diam di tengah lalu lalang manusia yang sibuk mengejar jadwal dunia.
Aku tersenyum kecil.
Mungkin delay ini bukan sekadar menunggu pesawat… tapi kesempatan untuk berhenti sebentar dan mengingat siapa sebenarnya Pengatur perjalanan.
Kini aku dan suami duduk manis di kursi 10A dan 10B.
Pesawat Super Air Jet dengan nomor penerbangan IO 995 perlahan mulai bergerak meninggalkan Bandara Sultan Iskandar Muda menuju Sukarno Hatta.
Ada sensasi yang selalu sama setiap pesawat mulai berjalan: campuran antara tenang, harap, dan doa yang otomatis muncul tanpa disuruh.
Bismillah…
Di pintu masuk pesawat, pramugari menyambut dengan senyum ramah. Beberapa lainnya sigap membantu penumpang menaruh barang di bagasi atas.
Namun ada satu hal yang membuatku memperhatikan lebih lama.
Pramugari-pramugari itu mengenakan pakaian muslimah.
Gamis longgar tanpa belahan di paha. Jilbab yang benar-benar jilbab — bukan sekadar selendang penghias seragam. Tampak anggun, sederhana, dan memancarkan aura Islami yang kuat.
Barulah aku tersadar.
Mereka sedang berada di Aceh — wilayah yang mewajibkan berjilbab.
Aku jadi teringat pengalaman lain saat naik pesawat Batik Air transit di Medan. Pada rute Jakarta–Medan, para pramugari mengenakan seragam biasa dengan rok berbelah khas pramugari. Namun ketika melanjutkan penerbangan menuju Aceh, mereka berganti pakaian.
Bukan sekadar ganti seragam.
Seolah ikut menyesuaikan diri dengan nilai tempat yang mereka datangi.
Dan entah kenapa, melihat perubahan itu menghadirkan rasa hormat tersendiri di hatiku.
Pesawat kini mulai bersiap lepas landas.
Aku duduk tenang.
Mukena dan Al-Qur’an mini masih di pangkuanku.
Mesin pesawat berdengung pelan.
Dan di titik ini, aku hanya seorang hamba…
yang duduk manis di antara langit dan takdir perjalanan hari ini.
Dalam pesawat, Sabtu 28 Maret 2026
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan