Hari yang Berkelok-Kelok di Bulan Ramadhan
Hari yang Berbelok-Belok di Bulan Ramadan
Hari itu rencananya sederhana.
Kami sekeluarga—besan, anak, mantu, dan cucu—ingin bersilaturahim ke rumah ponakan di Bekasi. Perjalanan keluarga yang kami bayangkan hangat, penuh cerita, dan tentu saja penuh oleh-oleh.
Namun rupanya hari itu alam punya rencana lain.
Belum sampai rumah ponakan, perjalanan kami harus berhenti sekitar satu setengah kilometer dari tujuan. Jalanan di depan sudah berubah menjadi sungai kecil.
Ponakanku memberi kabar lewat telepon.
“Kompleknya juga dapat rezeki banjir, Tante. Sebetis.”
“Kalau mobil lewat?” tanyaku.
“Lewat sih… tapi nanti masuk rumah harus main air dulu.”
Kami saling berpandangan.
Silaturahimnya bisa… tapi paketnya bonus rendam kaki.
Akhirnya diputuskan kami berhenti saja. Ponakanku yang datang menemui kami untuk mengambil sembako yang sudah kami bawa.
Silaturahim versi darurat.
Setelah itu kami memutar balik.
Masalahnya, jalan yang tadi kami lewati dengan santai ternyata sudah berubah. Air makin tinggi. Beberapa pengendara motor memilih mematikan mesin lalu mendorong motornya perlahan.
Kami sebenarnya berniat mengantar besan, anak, mantu, dan cucu ke Sawangan. Tapi mereka memberi kabar terbaru.
“Tol lagi diperbaiki. Kemarin macetnya luar biasa.”
Sementara sore harinya kami juga punya acara buka puasa bersama dengan Tim Cabang Cakung.
Akhirnya rencana antar-mengantar itu dibatalkan.
Di depan tol Bintara mereka naik Grab.
Satu per satu rencana hari itu berubah… seperti jadwal perjalanan yang terus direvisi.
Sore harinya di Masjid Baitul Mukminin Malaka Sari ada kegiatan Khatamil Qur’an yang diadakan oleh Forkomas RW 06. Ini sudah pelaksanaan tahun kelima.
Anakku memilih ikut kegiatan itu sebagai remaja masjid.
Sementara kami melanjutkan perjalanan ke Cakung untuk menghadiri acara bukber bersama tim.
Jam menunjukkan pukul lima sore.
Langit cerah.
Kami memutuskan naik motor saja.
Kesalahan kecil yang baru terasa setelah beberapa menit di jalan.
Macetnya… luar biasa.
Seperti seluruh warga Jakarta Timur punya tujuan yang sama sore itu.
Di tengah perjalanan aku sempat mampir sebentar ke Masjid Baiturrahman—masjid RT kami—untuk mengantar takjil. Kebetulan hari itu memang jadwalku.
Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke Cakung.
Sesampainya di sana, suasananya masih santai.
Kaum bapak-bapak sedang memasak.
Beberapa ibu-ibu temanku sibuk mewadahi kolak untuk buka puasa.
Aku menyerahkan kue yang kubawa, lalu duduk manis sambil ngobrol cantik.
Tak lama kemudian mereka satu per satu pamit.
“Mandi dulu ya… ganti baju. Nanti balik lagi.”
Aku mengangguk.
Namun setelah mereka pergi, aku baru sadar sesuatu.
Yang tersisa hanya bapak-bapak.
Aku mulai merasa agak salah tempat.
Masa aku duduk sendirian di tengah lingkaran bapak-bapak yang sedang ngobrol?
Aku mendekati suami.
“Saya gimana ya? Ibu-ibu pulang semua. Saya malu kalau bertahan di sini.”
Suami mencoba menenangkan.
“Nanti juga ibu-ibu datang lagi waktu buka.”
Aku menggeleng pelan.
“Tapi sekarang… saya duduk di mana? Ini semuanya bapak-bapak.”
Akhirnya aku bertanya pelan,
“Apa saya pulang saja?”
Suami tampaknya mengerti situasiku dan mengizinkan.
Masalah berikutnya muncul.
Motor.
Aku tidak terlalu hafal jalan pulang dari situ.
Solusi paling logis: pesan Grab.
Masalah kecilnya… di ponselku tidak ada aplikasi Grab.
Aku memang jarang naik ojek online. Kemana-mana biasanya naik motor sendiri, jadi tidak pernah merasa perlu mengunduh aplikasinya.
Untungnya, ada teman suami yang kebetulan mau pulang dulu dan rumahnya searah dengan rumahku.
Akhirnya aku ikut nebeng.
Sesampainya di depan pagar rumah…
aku baru sadar sesuatu.
Kunci pintu rumah ada di gantungan kunci motor.
Motor… masih bersama suami.
Aku berdiri di depan rumah sendiri.
Rumah ada.
Pemilik rumah juga ada.
Tapi tidak bisa masuk.
Rasanya seperti tamu di rumah sendiri.
Waktu sudah mendekati magrib.
Sekitar setengah jam lagi waktu berbuka.
Akhirnya aku berjalan ke Masjid Baiturrahman.
Niatnya sederhana: berbuka dan salat magrib di sana sambil menunggu anak pulang dari kegiatan khataman.
Daripada menunggu di depan rumah sendiri, lebih baik menunggu sambil tilawah.
Tak lama kemudian temanku menelepon.
“Mbak, balik lagi saja ke sini.”
Aku menolak dengan halus.
“Jauh… nggak keburu.”
Padahal sebenarnya hari ini rasanya sudah cukup banyak perjalanan yang berbelok-belok.
Aku membuka Al-Qur’an di ponsel dan mulai tilawah.
Azan magrib pun berkumandang.
Aku berbuka di masjid dengan sederhana. Tak lama kemudian anakku pulang dan kami kembali ke rumah bersama. Kunci rumah akhirnya kembali ke tangan yang benar.
Malam itu tidak banyak aktivitas.
Aku melanjutkan tilawah.
Sampai azan Isya berkumandang.
Aku berhenti membaca. Ponsel kuletakkan di samping. Niatnya sebentar saja rebahan sambil menjawab azan, lalu bangun mengambil mukena.
Ternyata niat manusia sering terlalu optimis.
Aku menjawab azan sambil setengah berbaring.
“Allahu akbar… Allahu akbar…”
Masih sadar.
“Hayya ‘alash shalaah…”
Masih sadar juga.
Lalu…
gelap.
Tiba-tiba aku bangun seperti mendengar suara petir.
Tubuhku langsung terduduk.
Dari luar terdengar suara pengeras masjid:
“Ash-shalaatu tarawiiih…”
“Astaghfirullah!”
Aku menatap sekeliling.
“Ya Allah… aku tidur berapa lama?”
Sepertinya tidak sampai lima menit.
Tapi lima menit yang sangat efektif.
Ini mungkin tidur tercepat sepanjang tahun ini.
Baru saja menjawab azan… tahu-tahu sudah pengumuman tarawih.
Aku segera salat Isya di rumah lalu cepat-cepat ke masjid.
Dalam hati aku masih berharap:
“Mudah-mudahan masih dapat banyak.”
Alhamdulillah… aku masih kebagian 14 rakaat.
Walaupun harus mengikhlaskan 6 rakaat yang hilang karena tidur kilat tadi.
Aku hanya bisa tersenyum kecil sambil berdoa dalam hati:
“Ya Allah… ampuni hambamu ini.”
Hari itu memang penuh belokan.
Silaturahim tertunda karena banjir.
Pulang ke rumah sendiri tapi tidak bisa masuk.
Berbuka di masjid tanpa rencana.
Dan menutup malam dengan tidur tercepat saat menjawab azan.
Kadang rencana kita memang tidak berjalan lurus.
Tapi mungkin memang ada saat-saat yang sengaja Allah atur…
agar kita berhenti sebentar.
Duduk tenang.
Dan kembali kepada-Nya.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan