Di antara Sujud dan Kantuk
Aku punya cerita yang sedikit memalukan.
Aku benar-benar ingin tetap terjaga sepanjang shalat tarawih. Dua puluh tiga rakaat bukan perkara ringan bagi mata yang sejak siang sudah bekerja dan tubuh yang diam-diam meminta istirahat.
Aku melawan kantuk dengan sungguh-sungguh.
Kadang berdiri sedikit lebih tegak. Kadang menarik napas panjang. Kadang membuka mata lebar-lebar seolah itu bisa mengusir rasa berat di kelopak mata.
Tapi ternyata perjuanganku tidak sepenuhnya berhasil.
Beberapa kali aku kehilangan jejak bacaan sendiri.
Saat tahiyat, aku tiba-tiba lupa… sampai di mana tadi aku membaca? Apakah sudah selesai? Atau baru setengah jalan lalu kantuk datang mencuri kesadaranku beberapa detik?
Aku baru tersadar ketika imam mengucapkan,
"Assalamu’alaikum warahmatullah…"
Panik.
Aku buru-buru melanjutkan bacaan, entah sudah benar urutannya atau tidak. Dalam hati mulai muncul rasa malu.
Saat jeda antarshalat, jamaah berselawat. Setiap selesai dua salam, doa dibacakan. Tanganku terangkat, mataku terpejam.
Dan di situlah perjuangan sebenarnya terjadi.
Antara ingin khusyuk… dan ingin tidur.
Yang paling membuatku ingin tertawa sekaligus tenggelam karena malu adalah ketika menjelang witir. Tanpa kusadari, tanganku perlahan jatuh… dan bersandar di pangkuan jamaah di sebelahku.
Aku tersentak.
Astaghfirullah…
Ngantukku benar-benar menang saat itu.
Aku tahu itu tidak baik. Aku tahu seharusnya lebih menjaga diri. Tapi malam itu aku sadar, tubuh ini punya batasnya sendiri.
Sepanjang perjalanan pulang, aku justru tertawa sendiri.
Betapa lucunya manusia.
Ingin terlihat kuat di hadapan Allah, tapi tetap saja makhluk lemah yang bisa kalah oleh kantuk beberapa detik.
Namun di balik rasa malu itu, ada satu hal yang membuat hatiku hangat:
Aku tetap datang.
Aku tetap berdiri.
Aku tetap berusaha bertahan sampai rakaat terakhir.
Sepuluh malam terakhir Ramadhan hampir berlalu. Aku tidak ingin kedatangannya hanya menjadi lewat biasa saja.
Mungkin ibadahku tidak sempurna.
Mungkin khusyukku bolong-bolong seperti awan yang terpisah angin.
Tapi aku datang dengan niat yang utuh.
Dan mungkin… Allah tidak melihat seberapa lama mataku terbuka, melainkan seberapa keras hatiku ingin tetap berada di rumah-Nya
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan